Recent Posts

Istilah Tentang LGBT Dalam Islam



Tarqiyah -- Perbincangan mengenai pembahasan tentang LGBT di parlemen yang mengemuka belakangan ini menyadarkan kita bahwa mereka secara serius mengupayakan pelegalan terhadap tindakan amoral tersebut. Bahkan salah seorang tokoh nasional pernah mengungkap bahwa ada gelontoran dana super besar untuk mengkampanyekan LGBT di Indonesia.

Ajaran Islam sebagai undang-undang untuk suatu tatanan hidup mulia, telah menjelaskan hukum bagi segala hal yang terjadi di antara manusia, termasuk persoalan LGBT  tersebut. Ada beberapa istilah dan pembahasan yang disebutkan dalam kitab-kitab fiqh. Di antaranya bahasan tentang khuntsa, mukhannats dan mutarajjil, liwath, serta sihaq.

Pertama: Khuntsa. Dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyah dijelaskan, khuntsa adalah orang yang memiliki dua jenis kelamin, kelamin laki-laki dan perempuan. Jika kelamin laki-laki lebih menonjol maka dia dihukumi sebagai laki-laki dan jika kelamin perempuan lebih tampak, maka dia dihukumi sebagai perempuan (al-Mausu’ah Juz 36: 265). Sebagaimana berlaku baginya hukum laki-laki atau perempuan setelah diperoleh kejelasan jenis kelamin tersebut. Sebabseseorang tidak mungkin memiliki dua jenis kelamin yang berbeda dalam porsi yang sama.

Kedua: Mukhannats dan mutarajjil. Muhkannats yaitu laki-laki yang meniru wanita dalam penampilan, tingkah laku dan cara bicara. Sebaliknya nama yang disebut terakhir berarti perempuan yang meniru laki-laki dalam penampilan, tingkah laku dan cara bicara.

Tasyabbuh atau meniru seperti ini termasuk hal yang diharamkan dan tergolong dosa besar serta terlaknat (Mausu’ah FiqhIslamy, Juz 5, hal 129). Hal ini dikuatkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam (Saw)

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: لَعَنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ المُخَنَّثِينَ مِنَ الرِّجَالِ، وَالمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ، وَقَالَ: «أَخْرِجُوهُمْ مِنْ بُيُوتِكُمْ

Dari Ibnu Abbas Radhiyahallahu anhu (Ra) berkata: Nabi melaknat mukhannatsin dari laki-laki dan mutarajjilat dari perempuan. Nabi bersabda: “Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian.” (HR. Imam al-Bukhari).

Disebutkan dalam kitab al-Fiqhu ‘ala al-Madzahib al-Arba’ah (Juz 5 hal. 122), siapapun laki-laki berkelakuan seperti wanita atau sebaliknya, harus diasingkan jauh dari kerabat dan sanak saudara juga dari teman-teman yang telah mempengaruhinya. Sesuai yang diperintahkan oleh  Nabi: Keluarkan mereka dari rumah-rumah kalian.

Ketiga: Liwath (homoseksual). Dalam pengertian fiqh adalah perbuatan keji (fahisyah) seperti yang dilakukan oleh kaumNabi Luth. Sedang sihaq (lesbian) adalah perbuatan (zina) yang dilakukan perempuan dengan perempuan sebagaimana yang dilakukan laki-laki dengan perempuan (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyyah, Juz 24: 251).

Liwath adalah perbuatan keji yang dilakukan kaum Nabi Luth Alaihis salaam (As) yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh siapapun. Allah berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ ، إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ

“Dan ingatlah Luth ketika berkata pada kaumnya: Apakah kalian melakukan al-fahisyah yang belum pernah dilakukan seorangpun di alam ini. Sungguh kalian mendatangi laki-laki bukan wanita dengan penuh syahwat. Sungguh kalian kaum yang melampaui batas.” (QS. Al-A’raf [7]: 81).

Senada Ibnu al-Qayyim menerangkan, ketika akibat buruk/dampak dari perbuatan liwaath adalah kerusakan yang besar, maka balasan yang diterima di dunia dan akhirat adalah siksaan yang berat (al-Jawab al-Kafi liman Sa-ala ‘an ad-Dawaa asy-Syafi).

Hukuman berat tersebut berupa adzab yang bertubi-tubi pada pelaku homoseksual dari kaum Nabi Luth. Mereka dibinasakan dengan suara yang keras, dibenamkan ke dalam tanah lalu dihujani dengan batu.

لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ ، فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ ، فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

“Sungguh mereka terombang-ambing dalam kemabukan mereka (kesesatan). Maka mereka dibinasakan oleh suara keras ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari sijjil.” (QS. Al-Hijr [15]: 72-74).

Tiga bentuk siksaan sekaligus yang ditimpakan kepada pelaku gay dari kaum Nabi Luth menunjukkan beratnya kejahatan yang mereka perbuat. Untuk itu mayoritas ulama (jumhur) sepakat membunuh pelaku perbuatan dosa tersebut, baik pelaku maupun korbannya. Jumhur ulama menyepakati hukum had yang ditegakkan pada mereka haruslah lebih berat daripada had zina. Mereka hanya berselisih tentang cara penegakan hukum had tersebut.

Ibnu Abbas meriwayatkan:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ وَجَدْتُمُوهُ يَعْمَلُ عَمَلَ قَوْمِ لُوطٍ، فَاقْتُلُوا الْفَاعِلَ وَالْمَفْعُولَ بِهِ

Rasulullah bersabda: “Barangsiapa melakukan perbuatan kaum Luth, maka bunuhlah pelaku dan korbannya.” (HR. Ibnu Majah).

Melihat beratnya adzab dan hukuman yang harus ditimpakan pada pelaku homoseksual, menjadikan umat Islam tak boleh berpangku tangan membiarkan para pegiat LGBT melakukan lobi sosial dan politik untuk mendapatkan legalitas hukum dan penerimaan dari masyarakat. Karena bisa jadi adzab yang ditimpakan bukan hanya mengenai para pelaku dan pegiat LGBT tersebut, namun juga menimpa manusia yang hanya diam menonton tak berbuat sesuatu apapun.

Allah berfirman:

واتقوا فتنة لا تصيبن الذين ظلموا منكم خاصة واعلموا أن الله شديد العقاب

“Dan takutlah kalian pada adzab yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zhalim di antara kalian saja. Dan ketahuilah bahwa Allah sangat pedih siksaan-Nya.” (QS. Al-Anfal [8]: 25).

Masih ada waktu bagi para penganut LGBT, segeralah bertaubat. Minta ampunan Allah. Semoga kalian dikembalikan pada fithrah sesungguhnya.

Sumber hidayatullah.com

..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksi@tarqiyah.com

Memidanakan LGBT



ISU mengenai legalitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) kembali mendapat perhatian publik setelah Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyebut ada lima fraksi di DPR yang mendukung penyimpangan orientasi seksual LGBT.

Sayangnya pernyataan itu dinilai hanya mencari sensasi semata karena tidak menyebut fraksi mana saja. Juga ketidakcermatan menyebut soal rancangan undang-undang (RUU) yang sedang dibahas.

Sejatinya tidak ada pembahasan RUU yang secara khusus membahas larangan LGBT karena persoalan boleh tidaknya LGBT berkaitan erat dengan legalitas pernikahan. Di beberapa negara seperti Australia dan Amerika, perkawinan sejenis memang telah dilegalkan.

Karena itu, jika hendak berbicara mengenai larangan LGBT secara khusus seharusnya berbicara mengenai perubahan UU Perkawinan atau pembentukan RUU tentang larangan LGBT itu sendiri. Dalam Prolegnas tahun 2017 maupun 2018, dua UU tersebut tidak masuk. Berkaitan dengan perkawinan, UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan memberikan aturan main yang tegas bahwa pernikahan itu dianggap sah apabila dilakukan sesuai dengan agama dan kepercayaannya (pasal 2 ayat (1).

Artinya, tidak dapat negara memberikan pengakuan terhadap pernikahan yang melanggar agama. Ini jelas sejalan dengan prinsip negara Indonesia sebagai negara berketuhanan yang ada dalam Pancasila dan UUD 1945. Dalam konteks ini pula, tidak ada satu pun agama di Indonesia yang membolehkan pernikahan sejenis.

Dengan demikian, aspek UU Perkawinan keberadaan pernikahan sejenis ini jelas tidak diakui. Namun demikian, UU Perkawinan pun tidak memberikan ancaman hukuman, khususnya hukum pidana, jika ternyata ada yang melakukan pernikahan sejenis. Ini menjadi persoalan tersendiri.

RKUHP dan LGBT "Ribut-ribut" tentang LGBT yang ada di DPR saat ini tidak lain karena sedang dibahasnya Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) sebagai upaya untuk mengganti KUHP Warisan Belanda.

Persoalan LGBT sendiri muncul dalam bagian mengenai "Percabulan" Pasal 495 yang menyebutkan: (1) "Setiap orang yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama jenis kelaminnya yang diketahui atau patut diduga belum berumur 18 (delapan belas) tahun, dipidana dengan pidana penjara paling lama 9 (sembilan) tahun" dan (2) "Dipidana dengan pidana yang sama ditambah dengan sepertiga jika perbuatan cabul sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan cara seks oral atau seks anal atau semua bentuk pertemuan organ nonkelamin dengan alat kelamin yang dilakukan secara homoseksual.

Sekilas tidak ada yang salah dengan pasal tersebut, namun menjadi pertanyaan, mengapa hanya diancamkan bagi perbuatan yang korbannya belum berumur tahun? Apakah yang dilakukan terhadap orang dewasa (di atas 18 tahun) menjadi boleh? Pertanyaan inilah yang sedari awal pembahasan RKUHP di DPR saya tanyakan kepada pemerintah sebagai penyusun RKUHP.

Prof Muladi selaku tim perumus menyebutkan alasan orang dewasa tidak dipidanakan adalah karena kejahatan cabul terhadap sesama jenis di dunia internasional hanya diancamkan untuk yang dilakukan terhadap anak atau child abuse, sementara untuk orang dewasa tidak.

Karena itu, draf Pasal 495 itu sama persis dengan Pasal 292 KUHP Warisan Belanda. Hal inilah sepertinya salah satu titik krusial persoalan LGBT. Dengan hanya memberikan ancaman pidana terhadap tindakan LGBT sesuai kategori child abuse tersebut, maka secara esensial orang dewasa diperbolehkan melakukan LGBT.

Dalam pembahasan di Tim Perumus RKUHP Komisi III DPR pada 15 Januari 2018, telah terjadi perkembangan signifikan di mana fraksi-fraksi di DPR dan pemerintah merumuskan agar pasal pemidanaan bagi LGBT tersebut tidak hanya berlaku dalam kategori child abuse saja, tetapi juga tanpa batas usia.

Selain itu, muncul juga upaya pemberatan khususnya jika apabila menyebabkan luka terhadap anak atau menggunakan kekerasan, dilakukan di muka umum, memublikasikan, dan mengandung unsur pornografi. Ketentuan ini rencananya akan difinalisasi dalam rapat kerja Komisi III bersama pemerintah. Sebenarnya masih ada yang kurang, khususnya pemidanaan bagi tindakan pernikahan sejenis baik pelakunya maupun pihak-pihak yang mendukungnya.

Ketentuan tersebut seharusnya perlu dimasukkan juga sebagai penegas bahwa UU Perkawinan kita menolak pernikahan sejenis dan bagi yang melanggarnya diancamkan pidana dalam KUHP. Upaya pemidanaan perbuatan LGBT tersebut adalah langkah maju bagi bangsa Indonesia, sekaligus penegasan ke dunia internasional bahwa kita memiliki kedaulatan hukum di mana kita tidak tunduk, apalagi mau diatur-atur oleh asing.

Bagi Indonesia, mengkriminalisasi LGBT untuk seluruh usia adalah bentuk nyata penerapan nilai-nilai Pancasila yang berketuhanan. Jika ini diabaikan dan LGBT tidak dikriminalisasi, bukankah sebuah pelanggaran terhadap Pancasila? Bukankah pula Putusan MK Nomor 46/PUU-XIV/2016, walaupun menolak mengkriminalisasi LGBT melalui putusan pengadilan, namun dalam pertimbangan hakimnya menyebutkan bukan berarti mereka setuju terhadap LGBT, melainkan seharusnya DPR-lah yang memiliki kewenangan apakah akan memidanakan LGBT atau tidak.

Dengan demikian, ini adalah tindakan konstitusional. Apalagi dalam Naskah Akademik RKUHP disebutkan pendapat Prof Oemar Senoadji bahwa sekitar kejahatan terhadap kesusilaan seharusnyalah unsur-unsur agama memegang peranannya. Lalu, apakah dengan adanya kriminalisasi terhadap LGBT terhadap semua usia akan menyelesaikan masalah?

Tentunya tidak, karena KUHP hanyalah satu undang-undang yang mengatur soal ancaman pidana terhadap berbagai macam perbuatan yang dilarang. Karena itu, di sinilah urgensi pembentukan UU Larangan LGBT yang mengatur secara komprehensif penanganan LGBT. Walau bagaimanapun, LGBT adalah sebuah penyakit menular yang oleh sebagian orang dinilai menjijikkan.

Karena itu, penyelesaian melalui jalur penjara tidak akan menyelesaikan masalah secara tuntas. Justru tesis orang-orang yang menolak memidanakan LGBT dengan alasan overkriminalisasi dan kemungkinan semakin sesaknya lembaga pemasyarakatan (LP) akan menjadi kenyataan. Karena itu, gagasan membentuk UU Larangan LGBT menemui urgensinya dengan menitiktekankan upaya penyembuhan melalui media medis dan psikologis terhadap pelaku LGBT.

Ancaman pidana hanyalah jalan terakhir (ultimum remedium), khususnya bagi pelaku yang melakukan tindakan dengan kekerasan, apalagi untuk kepentingan bisnis (perdagangan), pornografi dan penyebarluasan (penularan). Sementara itu, kelompok orang yang terindikasi LGBT namun tidak melakukan tindakan cabul, seharusnya diobati.

Di sinilah perlunya UU Larangan LGBT tersebut, sehingga pemerintah pun diberikan kewajiban untuk menyediakan sarana-prasarana untuk menanggulangi dan lebih khusus mencegah serta mengobatinya. Dengan demikian, over kapasitas LP akan terhindari dan kita juga memberikan jalan terbaik bagi yang terjangkit penyakit tersebut agar dapat disembuhkan. Semoga ikhtiar ini mendapatkan dukungan dan dapat direalisasikan segera!

M Nasir Djamil
Anggota Panitia Kerja (Panja) RKUHP Komisi III DPR RI Fraksi PKS

Sumber koransindo

..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksi@tarqiyah.com

Apakah Batasannya Kita Dikatakan Mampu Untuk Berqurban?


Tarqiyah -- Dikategorikan mampu untuk berkurban ialah yang mempunyai kelebihan harta sebanyak 20 Dinar. Ini kata madzhab al-Hanafiyah. Dalam beberapa literasi al-Malikiyah, disebutkan bahwa standar mampu berkurban ia yang punya kelebihan harta 30 Dinar.

20 atau 30 Dinar adalah harta lebih, alias tidak terpakai atau nganggur. Bukan rumah, bukan kendaraan, bukan perabotan, bukan juga dagangan, itu semua tidak terhitung. 20 atau 30 dinar adalah harta yang menang disimpan sedang kebutuhannya sudah terpenuhi semua. 20 atau 30 dinar itu memang kelebihan.

Dalam madzhab Al-Hanafiyah, orang yang punya kelebihan harta 20 dinar, wajib berkurban. Wajib. Karena memang kurban bagi madzhab ini hukumnya wajib. Jika mampu tapi tidak berkurban, dosa yang didapat. Kalau 1 Dinar saat ini senilai 2 juta rupiah sekian, maka tinggal dikalikan saja 20 atau 30 dinar.

Standar mampu dalam madzhab al-Syafi'iyyah bukan dihitung dengan nominal tertentu, akan tetapi bagi madzhab ini, dikategorikan mampu ialah yang mempunyai uang yang cukup untuk beli kurban, juga untuk menafkahi keluarga beserta orang-orang yang ditanggungnya selama hari-hari penyembelihan; 10, 11, 12, 13 Dzulhijjah.

Katakanlah ia punya uang 6 juta rupiah. Untuk seekor kurban dari jenis kambing, yang sudah memenuhi syarat kurban seharga 3 juta. Kalau dia beli kambing tersebut, maka sisa uangnya 3 juta. Nah 3 juta sisa tersebut apakah cukup untuk menafkahi keluarha dan orang yang ditanggungnya?

Kebetulan istrinya hanya satu, dan anak kandung 2 orang. Jadi hanya 3 orang beserta dirinya yang ia tanggung. Dalam sehari, dari mulai makan, kebersihan dan kebutuhan lainnya untuk satu keluarga ini hanya menelan biaya 500 ribu rupiah. Kalau dikalikan 4 hari, menjadi 2 juta rupiah. Artinya uangnya masih berlebih, Berarti ia adalah orang yang mampu berkurban.

Maka, baginya sunnah berkurban dan sangat dianjurkan sekali, tidak sampai wajib memang karena dalam madzhab ini kurban hukumnya sunnah muakkadah. Kalaupun tidak berkurban, tidak mengapa akan tetapi jelas ini tercela dan tertimpa kemakruhan kepadanya dan keluarganya.

Jika ada orang dengan uang 10 juta, dia bisa beli kambing 3 juta, sisa uangnya 7 juta rupiah. Akan tetapi orang yang ditanggungnya banyak; Istri 4, anak dari 3 istri ada 12 orang; masing-masing istri punya 4 anak. Istri keempat tidak beranak karena memang baru dinikahinya. Dia juga harus menafkahi orang tuanya yang keduanya sudah uzur, bahkan mertua dari istri pertama pun ikut dengannya. Jumlah semua yang dia nafkahi 21 orang termasuk dirinya. Cukupkah 7 juta untuk 21 orang tersebut dalam 4 hari?

Ini seputar standarisasi mampu berkurban menurut ulama-ulama fiqih.

Oleh : Ustadz Ahmad Zarkasih, Lc
Sumber rumahfiqih.com


..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksi@tarqiyah.com

Ini Dia Perempuan Berhijab Yang Mengisi Skuad Timnas Futsal Putri Indonesia di Sea Games 2017



Tarqiyah- Sea Games ke 29 yang di gelar di Malaysia 19-30 Agustus 2017. Beban besar ada dipundak para pahlawan olahraga Indonesia untuk merebut sebanyaknya medali emas dan menyabet gelar juara umum.

Tak kecuali target besar ada di timnas futsal putri Indonesia. Berada di grup yang tidak mudah bersama Thailand dan tuan rumah Malaysia, tim dituntut meraih hasil maksimal.

Diantar aksi timnas futsal putri Indonesia terdapat satu pemain yang menjadi perhatian. Namanya adalah Maya Muharina Fajriah. Putri kelahiran 19 Mei 1996 itu menjadi pusat perhatian bukan hanya karena permainan dan skillnya yang ciamik, tapi karena ia menjadi satu-satunya pemain yang mengenakan Hijab.

Sejak kecil mencintai dunia olahraga, Maya awalnya adalah atlet atletik. Namun pada suatu kesempatan ketika ia duduk dibangku SMP mendapat tawaran mengikuti seleksi futsal dan lolos. Sejak itulah ia jatuh cinta kepada futsal.

Berkat penampilannya yang impresif bersama timnya, Maya dipercaya untuk mengisi skuad timnas futsal putri Indonesia yang berlaga di Sea Games ke 29 di Malaysia.

"Bangga dan bersyukur karena bisa masuk timnas pertama kalinya dan yang paling muda. Bangga bisa bela negara sendiri di kancah internasional dan bersyukur dari futsal bisa bela negara," ungkap Maya seperti dikutip dari bolabob.com

Dengan segudang prestasi yang dimilikinya, ia bertekad untuk terus berkarir dalam dunia futsal hingga nanti menjadi pelatih.

Semangat yang ia perlihatkan memberikan pelajaran bagi kita bahwa tak ada halangan untuk berprestasi bagi para hijabers. Dengan semangat dan tekad yang kuat serta keteguhan prinsip dan doa maka prestasi akan diraih.

Ukirkan terus prestasimu, Maya!

Biodata:
Nama lengkap: Maya Muharina Fajriah
Tempat dan tanggal lahir: Bogor, 19 Mei 1996
Tinggi dan berat: 162cm - 52kg

Karir di futsal:
Netic Ladies FC 2008 - Sekarang

Prestasi di futsal:
Juara Futsal Gamagudabo Cup 2009
Juara Bogor Championship 2009
Juara Gamagudabo Cup 2010
Juara UPI Challenge 2012
Juara Piala Atmajaya 2012
Juara Piala Ibu Ani Subowo 2011
Juara Legendary Reis Bogor 2012
Peringkat 4 AIMAG 2013 (dikutip dari bolabob.com)

Mengharukan! Bersepeda Lewati 9 Negara, Jamaah Haji Asal Inggris Tiba Di Tanah Suci



Tarqiyah -- Berhaji adalah impian semua muslim. Ibadah napak tilas perjalanan para Nabi ini memiliki perjuangan tersendiri. Tak ayal jika rukun Islam kelima ini menjadi kewajiban setiap muslim apabila telah mampu melaksanakannya. Bukan hanya perkara uang, tapi juga niat dan kemampuan fisik.

Tekad itulah yang dirasakan oleh delapan jamaah haji asal Inggris ini. Mereka mengayuh sepeda sejah ribuan kilometer untuk menginjakkan kaki ditanah suci. Dengan perjuangan yang luar biasa itu kisah ke delapan jemaah haji ini menjadi viral di media sosial.

"Momen sebelum pengendara haji tiba di Masjid Nabawi setelah bersepeda lebih dari 2.000 mil melalui sembilan negara. Adegan-adegan yang menakjubkan," tulis @IlmFeed, dikutip Kompas.com, Selasa (22/8/2017).

Kisah heroik tersebut menginspirasi banyak orang sehingga semakin bersemangat untuk menunaikan ibadah haji. Maka, jika kita sudah mampu secara finansial mari segerakan untuk mendaftarkan diri anda untuk beribadah di tanah haram. Semoga menjadi haji yang mabrur.

(kpw)


..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksi@tarqiyah.com / redaksitarqiyah@gmail.com

Nasional

Dakwah

Internasional