Alhamdulillah ya,,

Sebuah kalimat yang ringan sekali meluncur dari lisan kita. Bahkan saya pernah menemukan kalimat itu diucapakan oleh orang nonmuslim. Tentu itu tidak dapat merubah akidah mereka, karena syarat seorang dikatakan muslim bukan hanya pada lisan. Namun bagi kita seorang muslim kalimat Alhamdulillah adalah sebuah ungkapan rasa yang agung terhadap ke Maha Luasan rahmatNya yang memberikan segala kebaikan pada diri kita.

Kalimat syukur adalah sebuah konsekuensi logis kita sebagai hamba kepada Rabbnya. Jika kita diberi sesuatu oleh teman,tetangga, atau orang lain kita merasa senang sekali dan akan mengucapkan terimakasih sebagai bukti bahwa kita merasa senang atas pemberiannya dan sebagai tanda untuk menyenangkan sang pemberi karena tentu setiap pemberi akan sangat senang jika pemberiannya sangat disukai oleh orang yang diberi.


Terlebih lagi ini yang diberikan kepada kita bukan hanya barang, tapi segala ni’mat dan karunia yang ada pada tubuh kita, pada rumah kita, pada keluarga kita, langit dan bumi beserta isinya yang terhampar luas. Sungguh betapa durhaka ketika kita telah diberi sesuatu yang jauh sekali lebih besar daripada apa yang kita minta sekalipun namun tak ada perasaan bersyukur terhadap semua yang telah Dia beri. Jika kembali kepada analogi orang yang memberikan sesuatu kepada kita tadi. Pastilah ada perasaan ingin membalas pemberiannya paling tidak jika tak mampu memberi yang sama minimal dengan berbuat baik padanya. Sekali lagi itu sebuah hal yang sangat logis dalam sebuah amaliyah kehidupan sehari-hari. Namun bagaimana sikap kita terhadap segala karunia Allah yang telah diberiNya pada kita. Jangankan ada perasaan untuk membalas segala karunianya yang telah diberi karena itu memang tidak mungkin. Berusaha untuk berbuat baik padaNya atau paling kecil adalah bersyukur kepadaNya dan menyadari betapa Allah sangat baik telah memberinya ni’mat. Kita masih saja kufur dengan tak mau mengakui keagunganNya dengan segala ni’mat yang telah Dia beri. Padahal jelas sekali dalam Al Quran Allah jamin jika apa yang ada pada kita saat ini sedikit tapi kemudian kita bersyukur maka pasti akan ditambahkan ni’mat itu. Jadi masalahnya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya apa yang ada pada kita untuk kemudian kita mengatakan bahwa Allah tidak adil telah memberi kita sedikit dan memberi banyak kepada yang lain. Tapi semua itu terletak pada kesyukuran yang kita miliki. Banyak sekali orang yang tinggal dirumah mewah penuh dengan fasilitas canggih namun seisi rumah terasa gersang tak ada rasa cinta dan kasih sayang didialamnya. Begitu pula sebaliknya kita pun sering menyaksikan sebuah keluarga yang amat sederhana bahkan kurang namun hidup bahagia dan tenteram.

Syukur memiliki kedudukan yang sangat tinggi di hadapan Allah, sebagaimana firmannya dalam surat Ibrahim ayat 7, “ sesunggunghnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni’mat) padamu. Dan jika kamu mengingkari (ni’matKu) maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. Perhatikan ayat ini Allah sampaikan akan menambah ni’mat bagi orang bersyukur adalah bukti bahwa Dia menempatkan syukur sebagai sebuah amal unggulan. Namun jika syukur itu tidak ada pada diri kita maka konsekuensinya adalah murka Allah. Kita hidup didunia tidak membawa apapun, dan semua yang ada di dunia ini hanyalah milikNya, kita hanya diminta bersyukur namun kita lalai tentu itu sebuah hal yang sangat durhaka.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa ada seorang ahli ibadah yang tinggal begitu lama disebuah tempat terpencil dan yang ia lakukan hanyalah beribadah siang dan malam hanya sesekali ia keluar untuk mencari makan. Namun suatu ketika ia meningal dunia, dan ia pun mendapat giliran untuk di hisab. Semua amal ibadahnya dihitung namun Allah berkehendak memasukkannya kedalam syurga dengan ridhoNya. Seketika ahli ibadah ini protes dan mengatakan bahwa ia telah melakukan amal ibadah yang banyak sepanjang hidupnya. Lalu Allah memerintahkan malaikat untuk menghitung timbangan antara amal ibadahnya dan ni’mat yang Dia beri. Lalu ketika segala amal ibadahnya ditimbang dengan ni’mat mata sungguh jauh sekali perbandingannya, kemudian Allah memerintahkan untuk memasukkan sang ahli ibadah tadi kedalam neraka.

Semua amal ibadah kita tidak akan pernah cukup untuk membalas segala kebaikanNya itu hal yang sudah pasti. Namun yang diperintahkan kepada kita adalah untuk bersyukur, sehingga dengan bersyukur itu kita dapat merasakan kebesaranNya dan mengakui ketidak berdayaan kita sebagai hamba. Syukur yang dimaksud bukan hanya lewat lisan karena ini bisa saja diucapkan oleh siapa saja seperti yang sudah saya sebutkan diawal. Tapi ia membutuhkan aktualisasi melalui keyakinan yang menghujam dihati dan amal yang jelas. Tidak dikatakan ia bersyukur apabila tetap ada maksiat dalam dirinya. Tetap ada sesembahan lain selainNya, tetap jauh ia dari orang – orang sholih serta jihad dijalanNya. Maka syukur itu sangat berbanding lurus dengan kualitas amal serta keimanan. Dari sanalah lahir sifat qonaah, zuhud, dan akan mengikuti sifat-sifat mulia lainnya.

Selayaknya iman yang harus terus diperbaharui karena ia mengalami naik dan turun begitu pula dengan syukur. Kita harus memperbaharui rasa syukur kita kepada Allah dengan mentadaburi segala ciptaanNya baik itu dari ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah. Sehingga dengan demikian kita akan mampu menjadi insan yang senantiasa istiqomah dalam keimanan. Wallahu ‘alam

Silakan Berbagi

Related Posts

First