Berpacu Dengan Kelemahan


Oleh : Kurnia P. Wijaya

Dalam setiap fase perjuangan pasti lah berisikan macam-macam kondisi. Dan merupakan sebuah kaidah klasik bahwasannya perjuangan menegakkan dienullah tidak akan tegak kecuali didalamnya terdapat fase-fase yang beruntun menguji para penyerunya. Adakalanya kita menemukan kekuatan sehingga kita bersemangat dan tentu adakalanya pula kita lemah, hingga tersungkur didalamnya dan tak jarang putus asa hadir ditengah jamaah.

Dakwah selayaknya adalah proses yang tidak berkaitan langsung dengan hasil yang terlihat secara duniawi, karena ia adalah kerja hati. Maka dikala kondisi dakwah yang mengalami tekanan hebat sehingga turbulensi itu membuat orang didalamnya banyak yang terlempar, atau sengaja melompat. Ini adalah perkara persepsi tentang dakwah itu sendiri. Jika dalam benak setiap da’i bahwa hasil yang terlihat didunia ini adalah tujuannya maka tidaklah aneh jika hal tersebut yang terjadi.

Kelemahan, ialah ujian bagi orang-orang yang ikhlas. Yang dapat memilah apa sebenarnya tujuan ia bergelut, berpeluh dalam kubangan cinta yang indah ini. Karena mereka yang memiliki kecenderungan salah dalam dakwah ini, akan mudah lemah, sakit, hati, dan untuk kemudian menyalahkan kondisi menjadikannya pembenaran atas kemalasanya untuk melakukan pembenahan.

Kita diajarkan Allah dan RasulNya tentang bagaimana para da’i bertahan dan berpacu dalam kelemahan yang melingkupinya. Siksaan, pendustaan, tak lantas menjadikannya menyalahkan kondisi, ini karna ini, karena itu, karena si ini, karena si anu, karena begini karena begitu. Nuh as, diberikan Allah usia 950 tahun. Tapi yang dapat beriman kepadanya hanya sebagian kecil dari satu kapal saja.
Kelemahan pada barisan ini hadir bukan ujug-ujug tapi ia merupakan sparing partner keimanan. Bagi mereka yang tak kuat pondasinya, akan runtuh. Karena tak semua orang dapat bertahan maka mereka yang bertahan adalah da’i kualitas satu. Bagi orang yang ingin memetik hasil dengan cepat ia tidak akan merasakan manisnya perjuangan ini. Sebagai contoh, kita mengetahui mangga harum manis itu rasanya manis, tapi jika kita memetiknya ketika belum matang tentu kita akan merasakan asam. Jangan salahkan mangga itu yang asam, tapi mengapa kita memetiknya saat belum waktunya ia menjadi manis.

Kita musti berpacu dengan kelemahan, tak ada kompromi dengannya. Ketika kondisi lingkungan kita sedang sakit tentu yang terbaik adalah kita menyehatkannya, paling tidak kita tidak membuatnya sakit, atau kita sendiri tak sakit. Karena sebetulnya begitu banyak potensi yang ada pada diri masing-masing kita, begitu pula ia menjadi sebuah himpunan dalam lingkup jamaah. Sehingga dapat dipastikan jika potensi itu berubah menjadi gerak maka kelemahan akan dengan tergopoh-gopoh mengangkat bendera putih dan menyerah. Tinggal masalahnya bagaimana potensi itu bisa dikerahkan, tak akan mungkin terjadi itu kecuali dengan keikhlasan para da'i nya dalam menghadapi kondisi lemah. Karena ia seperti pemantik, yang melahirkan energi gerak, yang memurnikan segala jalan, hingga pertolonganNya datang menghampiri dengan segala bentuk.

Ketika dalam satu lingkup jamaah dakwah banyak dari kita yang tiba-tiba menghilang, atau hasil yang dicapai seolah tidak maksimal. Atau bahkan stagnasi dan kejenuhan melanda, maka lawan!. Kita harus berpacu dengannya, memang tak akan semua dapat melawannya, sebagaimana yang saya katakan tadi paling tidak kita tidak ikut sakit. Tak ada tempat untuk kambing hitam, tak ada tepat untuk keluhan kecuali diatas sajadahnya dan berlinang air mata karena meminta padaNya.

Satu hal yang musti kita pahami adalah, segala daya upaya dalam jalan ini itu adalah berkah dari jalan itu sendiri. Bukan dari megahnya jumlah, banyaknya dana, dan segala macam keduniaan lainnya.
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al Qashash : 56)

Hidayah itu hak Allah, tugas kita adalah berjuang dijalanNya, kemudian sabar dan ikhlas. Jika ini menjadi pemahaman bagi kita bahwasannya,pahala dakwah tak berhubungan sama sekali dengan hasil duniawi, lalu hidayah itu adalah hak Allah. Maka segala perjuangan yang kita lalui akan tetap menghangatkan meskipun dingin diluar sana, akan tetap menyejukkan meskipun terik menyengat dihadapan kita.
Mari masing-masing dari kita berpacu dengan kelemahan, hingga ia lelah mengejar kita. Hingga tak ada lagi tatapan tunduk dalam jalan ini kecuali saat malam-malam dengan hiasan air mata bertalu memohon ampunan padaNya.

Allahu a'lam

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »