Direct Selling, Pembuka Pintu Langit


Oleh : Kurnia P. Wijaya


Siang itu target yang harus disambangi adalah RW 05, yang memang memiliki medan tak mudah. Jelas, karena wilayah itu adalah komplek asrama POLRI. Tapi hal itu tak lantas menciutkan nyali apalagi memundurkan langkah barang sejenkal. Sebelum masuk ke rumah-rumah yang dilakukan adalah meminta izin otoritas setempat. Maka dicari lah rumah pak RT namun tidak ada hasil lalu tujuan berikutnya adalah wakil RT, setelah berbincang ternyata beliau menyarankan untuk meminta ijin kepada bapak RW. Sejenak dua orang direct seller ini merasa jiper karena harus langsung berurusan sama RW terlebih lagi setelah diberi tahu bahwa pak RW tersebut pangkatnya Kapten, -jleb -. Tapi tak kemudian mereka patah aral, akhirnya sampai pula lah dikediaman bapak Kapten RW.

Setelah salam mereka disambut oleh istrinya. “Maaf bu, Bapak ada?? “ tanya dua direct seller. “wah bapak baru aja pulang dinas, sekarang lagi tidur, memang perlu ya? , “iya bu, ada perlu” jawab mereka. Istri pak RW yang ternyata adalah anggota TNI kemudian membangunkan pak Kapten yang baru saja pulang dari dinas malam. “siapa anda? Ada KTP? “ tanya pak RW dengan nada tegas khas polisi. –jreng- setelah menunjukan KTP baru lah mereka menjelaskan maksud kedatangan mereka. Tentu dengan perasaan dag-dig-dug, ya siapa yang tidak tegang berhadapan dengan Kapten untuk urusan yang tidak lazim. “ini pak, kami dari relawan Hidayat-Didik, mau silaturahim, sekaligus mau ijin untuk direct selling ke wilayah sini” jelas mereka dengan mencoba untuk tidak tegang. Berharap ada ijin yang keluar dari sang kapten RW, karena suasana cukup tegang,tentu bukan disisi pak RW. “saya udah pernah kena tegur gara-gara masalah begini” kata pak RW. Lalu ia melanjutkan “karena dulu saya pernah ketauan ikut bagi-bagiin kaos pak adang darajatun”. –blessss- suasanya yang tegang jadi berubah cair seketika. Betambah lah percaya diri sang direct seller yang memang terkenal kader militan. Akhirnya obrolan pun jadi hangat dan akrab. “tadi harusnya kalian gak usah ijin dulu ke saya,, langsung jalan aja “ disambut senyum kedua kader. Akhirnya setelah dapat lampu hijau mereka pun bergerak dengan semangat yang berlipat.

Akhirnya sampailah mereka kerumah pertama, ”Assalamu’alaikum,, bapaknya ada bu?? “. “wah bapaknya lagi sakit,, kena stroke”jawab sang istri. Akhirnya tim hanya ngobrol dengan istrinya dan menjelaskan maksud kedatangannya. Namun ternyata si bapak yang berada di kamar, yang memang sudah tidak bisa berjalan lagi mendengar. Tiba-tiba ia keluar dengan memakai tongkat dan menghampiri tim direct selling. Suasana berubah melihat sang bapak dengan antusias menyambut mereka walaupun dengan tergopoh-gopoh pakai tongkat. Ternyata ia senang dapat dikunjungi, pria yang memang sudah terlihat ringkih dengan pengalaman yang kaya. Ya betapa tidak, setengah jam lebih ia bercerita macam-macam tentang pengalaman hidupnya. “ane dengerin aja si bapak yang ngobrol macem-macem, padahal istrinya udah nyetop berkali-kali” ujar salah satu kader yang menjadi direct seller pada saat itu kepada kami lalu diiringi tawa hangat.

Lalu diujung pembicaraan ia mengatakan “bapak udah purnawirawan, ya kondisi juga gini, kalo dulu sih bapak masih dukung beringin, tapi sekarang udah enggak lagi”. “jujur aja, dulu bapak ditawarin 5juta, waktu kampanye adang darajatun. Nah, sekarang kamu bawa berapa”. –jleb- “wah kita gak bawa apa-apa pak, Cuma stiker doang, kita kan Partai Kaya Stiker pak, kalau mau kita tambah kaos deh pak,”. Entah serius atau tidak si bapak,atau hanya sekedar menguji sejauh mana mental kita. “nah, kalo yang ini bapak juga seneng kayanya” kata si bapak yang ternyata adalah ketua RT setempat sambil melihat stiker Hidayat-Didik yang diberikan. Dan kemudian suasana semakin akrab dan cair.

Kisah diatas mungkin hanya sekelumit cerita dari segudang kisah dalam melakukan direct selling . Sebuah pekerjaan yang terlihat sepele, namun justru ialah “pembuka pintu langit”. Tentu kita tak pernah menyangka sang Kapten yang juga ketua RW itu ternyata sejak dulu mendukung perjuangan kita. Begitu pula si bapak ketua RT yang untuk berjalan saja harus dipapah menggunakan tongkat akibat stroke yang menggerogoti tubuhnya, dengan antusias tergopoh-gopoh menemui kita dan menyambut dengan baik. Seolah pada waktu itu ia tidak sedang sakit apa-apa.

Direct selling itu membuka tabir halus yang membuat pekerjaan ini bukan hanya sekedar menjual produk,  kalau tidak suka ya sudah. Tapi mainstream yang harus dipahami bahwa ia adalah bagian dari kerja nyata, amal sholih yang penuh kejernihan. Didalamnya terdapat unsur yang mulai pudar dari bangsa ini, yakni silaturahim. Bayangkan seseorang yang belum pernah anda kenal sama sekali, lalu berkunjung kerumah anda, dan menjadi teman bicara anda. Tentu sebuah kehormatan, kebahagiaan, mungkin barangkali belum pernah ada yang mengunjunginya bahkan tetangga sekalipun. Ganjarannya bukan pada ketika mereka memilih kita, itu adalah akibat, dan sebabnya adalah karena kita sudah menyentuh hatinya. Bukan dengan gepokan rupiah, bukan dengan setentengan sembako. Tapi membahagiakan dan memuliakan hatinya.  Ini yang tidak dilakukan oleh orang lain.

Tentu saja tidak semua orang dapat menerima dengan baik, itu sunnatullah. Mungkin ada yang diusir, ada yang dimarahi, bahkan ada yang diancam dan diintimidasi. Itu adalah bagian dari upaya kita meraih RidhoNya, tidak ada urusan dengan respon mereka selama kita sudah bersikap baik dan meniatkannya sebagai amal sholih.

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al Qashash : 56)

Kemenangan ini bukan hadir dari berapa banyaknya orang yang mendukung kita, sejatinya adalah sejauh mana Allah Ridho atas segala usaha kita untuk membuat orang mendukung kita. Jika hanya dilihat dari banyaknya dukungan tentu orang lain lebih punya cara yang jitu untuk urusan itu.

Ja’far bin abi thalib dikirim oleh Rasulullah menemui raja Najasy, untuk meminta perlindungan. Hasil dari diplomasi ja’far beserta beberapa kaum muslimin diterima dengan baik. Bahkan ketika Quraisy berusaha mempengaruhi raja najasy dengan memberikan hadiah-hadiah yang paling disukainya agar mengusir kaum muslimin, Ia serta merta menolaknya. Dan ketika kaum muslimin di fitnah raja najasy memanggil ja’far untuk menjelaskannya. Dan setelah membacakan beberapa ayat dari surat Maryam, raja najasy pun semakin percaya dengan kaum muslimin dan mengusir orang – orang Quraisy dari negerinya.

Apakah serta merta kaum muslimin mendapatkan pembelaan tersebut dari raja Najasy, tentu ini merupakan akibat dari upaya pendekatan melalui dakwah fardiyah atau direct selling yang dilakukan kaum muslimin kala itu.

Sekali lagi, kemenangan kita itu adalah akibat , tentu tak akan ada akibat jika tak ada sebab. Maka sebabnya apa kita mendapatkan kemenangan. Nashirudin Al Albani mengatakan jika ingin melihat kegemilangan islam, lihat cara umat terdahulu.

Jika kita meyakini apa yang kita lakukan dalam direct selling itu adalah bagian dari dakwah fardiyah maka tak ada ia jika tanpa dilakukan dengan selazimnya dakwah jama’i . Kita harus melakukannya dengan penuh keikhlasan semata-mata karena Allah. Tidak terlalu mudah, karena kebanyakan kita melihatnya bahwa apa yang dilakukan itu hanya sekedar mengajak orang memilih dan seterusnya. Jika saja kita memahaminya dalam konteks dakwah fardiyah maka didalamnya ada kesabaran. Bagaimana menghadapi orang dengan berbagai macam sifatnya. Lalu juga ada keteguhan hati, sikap sopan santun, menggunakan kata-kata yang baik, dan tak lupa menyisipkan nilai-nilai islam didalamnya. Bukan kah hal tersebut adalah nilai yang ada dalam dakwah secara umum.

Dan yang lebih penting lagi adalah, kita mempunyai visi yang besar dan kuat. Sebagaimana al akh tadi yang maju menghadapi Kapten, yang notabene lebih besar, tegap, namun kemudian ia tak berubah menjadi kerdil. Karena ia memiliki visi yang besar dan kuat melebihi sang Kapten tadi. Itulah visi yang gemilang yang menembus cakrawala dan membuka pintu langit.

Mari kita kuatkan kesabaran, pancangkan azzam,  pertajam doa, agar dakwah ini akan gemilang. Bukan karena kita telah melakukan banyak hal. Tapi karena Allah Ridho terhadap apa yang kita lakukan.
Wallahu a’lam

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »