Mantan Presiden Tunisia Dihukum Seumur Hidup


Tunis - Pengadilan Tunisia menghukum mantan Presiden Tunisia, Zine El Abidine Ben Ali, penjara seumur hidup dalam sebuah pengadilan in absentia, pada Rabu (13/6/2012). Ben Ali dianggap bersalah karena memerintahkan tindakan keras terhadap protes berdarah yang memicu "Arab Spring".
Mantan Menteri Dalam Negeri Rafik Blhaj Kacem dan beberapa orang dari kalangan dalam Ben Ali juga dihukum 15 tahun penjara, tetapi para tokoh penting lain dibebaskan. Hal itu membuat marah banyak keluarga para korban.

Para jaksa menuntut hukuman mati terhadap Ben Ali --yang melarikan diri setelah ia digulingkan dan tinggal di pengasingan di Arab Saudi-- atas pembunuhan 22 orang di Thala dan Kasserine. "Kami berusaha memberikan hukuman yang adil, dan tidak seorangpun menekan kami. Kami hanya dilindungi Allah dan keyakinan kami sendiri," kata hakim Chokri Mejri pada akhir sidang enam bulan di Kef, sebelah barat Tunis.

Para anggota keluarga korban yang berada di luar gedung itu marah ketika pengadilan itu mencabut tuduhan-tuduhan terhadap 10 pejabat, termasuk mantan komandan pengawal kepresidenan Ali Seriati dan mantan Direktur Anti Huru-hara Kepolisian, Tunisia Mocef Laajimi.

Asfi Seihi, yang saudara sepupunya tewas di Thala, mengatakan, "Hakim harus menghukum mati semua terdakwa." Saudara sepupu Seihi bernama Mohamed Bouazizi, seorang pedagang sayuran dari kota Sidi Bouzid, yang mengilhami pemberontakan Tunisia Desember 2010 ketika ia membakar dirinya dan tewas dalam protes terhadap korupsi para pejabat.

Tindakannya itu memicu protes selama beberapa minggu, yang berakhir dengan tergulingnya salah satu dari pemerintah paling otoriter di dunia Arab. Revolusi berjuluk "Arab Spring" itu mengantarkan negara tersebut ke pemilu yang demokratis pada Oktober tahun lalu, yang mengantarkan partai Islam berhaluan moderat sebagai penguasa baru di Tunisia.

Penggulingan Ben Ali menimbulkan gelombang protes di Timur Tengah dan Afrika Utara yang menjadi terkenal dengan "Arab Spring", yang hingga kini masih melanda kawasan itu. Vonis-vonis pada Rabu (13/6/2012) kemarin adalah yang pertama terhadap personil senior pemerintah atas pembunuhan ratusan pemerotes dalam revolusi Tunisia.

Sementara itu, pemerintah Tunisia menyalahkan kelompok Salafi dan pendukung rezim lama atas kerusuhan terburuk sejak Ben Ali digulingkan. Tetapi pemerintah membantah pernyataan bahwa Al Qaida memprakarsai aksi kekerasan itu.

Seorang tewas dan sekitar 100 orang cedera termasuk 65 polisi akibat kerusuhan tiga hari yang agaknya dipicu oleh satu pameran seni yang termasuk karya-karya yang menyerang Islam. Pihak berwenang menahan lebih dari 160 orang dan memberlakukan jam malam di beberapa daerah termasuk daerah luas Tunis. Jam malam itu kemudian diperpendek dua jam mulai pukul 22.00 sampai pukul 04.00.

Satu pernyataan bersama para pemimpin pemerintah Tunisia, majelis konstituante dan presiden, mengecam "kelompok-kelompok garis keras yang mengancam kebebasan", dengan sasaran pada kelompok Salafi yang ultra konservatif.

Pemerintah Rusia saat ini dipimpin oleh Ennahda, kelompok Islam moderat, sementara presiden dan jabatan ketua parlemen dipegang dua partai yang menduduki posisi kedua dan ketiga dalam pemilu pasca-revolusi.

Ben Ali menghadapi banyak perkara dan ia telah dihukum lebih dari 66 tahun penjara atas tuduhan-tuduhan termasuk perdagangan narkoba dan penyelewengan. Sebuah pengadilan militer di Tunis juga menghukumnya 20 tahun penjara atas tuduhan-tuduhan termasuk penghasutan sampai pembunuhan.

Ben Ali terbukti bersalah "menghasut kekacauan, pembunuhan dan penjarahan," kata pengadilan Tunis dalam vonisnya menyangkut pembunuhan terhadap empat pemuda di kota Ouardanine, pertengahan Januari 2011. Pengadilan mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Ben Ali dan istrinya, tetapi pihak berwenang Arab Saudi tidak menanggapi permintaan ekstradisi dari Tunisia itu.

sumber : Gatra

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »