Menanti Pahlawan Kebangkitan



Oleh : Kurnia P. Wijaya

Kita bangsa Indonesia sedang mendambakan hadirnya seorang pahlawan yang bukan hanya sekedar pemimpin yang dapat membawa bangsa ini kepada keadaan yang lebih baik lagi. Banyak sekali ajang yang digelar untuk mencari figur-figur itu, seperti pilkada di setiap daerah sampai pemilu. Namun pertanyaannya apakah figure yang kita dambaka itu akan di temukan melalui proses – proses seperti itu. Seorang pahlawan memiliki hubungan yang saling menghidupkan dengan lingkungannya, maka masing – masing kita harus juga mempersiapkan diri karena kalau bukan kita yang menjadi pahlawan itu hal yang pasti kita lah yang akan menjadi lingkungan pahlawan itu jika kita menjadi lingkungan yang menguatkan maka cahaya kepahlawanan itu akan semakin terang namun jika kita menjadi lingkungan yang melemahkan maka cahaya itu akan redup dan akan meruntuhkan kepahlawanan itu sendiri.

Saat ini Indonesia sedang dalam masa kebangkitan menuju masa kejayaan, maka naluri kebangkitan itu yang dibutuhkan untuk menghadirkan seorang pahlawan yang membawa pada masa kejayaan. Dalam masa ini sumber kekuatan utama yang menggerakan adalah kecemasan. Inilah mata air yang memberikan energi untuk bergerak dan bergerak , melangkah tertatih – tatih sembari jatuh bangun , meraba dalam ketidak pastian, namun mereka tetap bergerak. Mereka semua dirundung kecemasan karena jarak yang terbentang jauh antara idealism dan relitas, antara harapan dan kenyataan. Mereka merasakan jarak yang terbentang jauh itu , maka mereka menjadi cemas, dan kecemasan itulah yang menggerakan mereka menuju momentum kepahlawanannya. Boleh jadi, sebuah bangsa terjajah dan manderita , tetapi mereka tidak merasakannya , maka mereka tidak cemas, dan mereka tidak akan bergerak karena mereka merasa berada dititik nyaman.

Kenyataan inilah yang mmuncul pada masa penjajahan dulu. Bangsa Indonesia dijajah selama 350 tahun. Waktu yang terlalu lama, kesabaran yang sungguh – sungguh luar biasa, sebab penjajahan tidak selalu ‘dirasakan’ sebagai penderitaan. Selama masa pahit itu , ada banyak generasi yang merasa tidak sedang menghadapi masalah tertentu , dan merasa hidupnya baik – baik saja. Mereka mungkin orang – orang sholeh , bekerja, dan berkeluarga tetapi hidup dibawah kekuasaan penjajah namun tidak merasakannya sebagai sebuah masalah. Itulah masalahnya, senjang antara penderitaan dan perasaan tentang penderitaan itu, sebagian orang merasakannya tetapi yang lain tidak merasakannya. Yang merasakannya akan didera kecemasan luar biasa sementara yang tidak, akan bersikap dingin terhadap penderitaan itu. Yang merasakannya biasanya akan bergerak, biasanya juga akan menjadi pahlawan pada masa itu. Sedangkan yang tidak merasakannya biasanya orang – orang awam . atau kolabolator penjajah, biasanya tidak akan bergerak, sampai arus besar perlawanan datang menghanyutkan mereka.

Begitulah kita menyaksikan Cokroaminoto, Agus Salim,Pangeran Diponegoro, Jendral Soedirman dan para pejuang kemerdekaan lainnya bergerak melakukan perlawanan. Mereka merasakan kesenjangan itu, mereka cemas, lalu mereka bergerak, dan mereka menjelma menjadi pahlawan pada masanya. Itulah yang terjadi di seluruh dunuia islam dan dunia ketiga selama abad 20 lalu, munculnya para pahlawan kebangkitan , yang menemukan gairah perlawanan dari kecemasan. Sebab itulah potongan zaman mereka, itu pula permintaan zaman mereka, dan itu pula kehendak zaman mereka dan mereka tidak mau membiarkan zaman mereka berlalu kemudian menunggu zaman berikutnya yang akan merubah semuanya. Sehingga Karena itu muncullah nama – nama seperti Abdul Hamid bin Badis di Aljazair, Hasan al-Banna di Mesir, Al Kawakibi di Syria, Izzudin al-Qassam di Palestina, dan demikin lagi seterusnya.

Jadi pada kebangkitan ini masing – masing kita harus menemukan jarak itu, lalu cemas akan jarak yang terlalu jauh itu kemudian bergerak untuk memperbaiki zaman ini tanpa harus menunggu hadirnya orang lain untuk memperbaikinya apalagi menunggu zaman berikutnya yang tidak pasti. Kita dapat bergerak di semua lini kehidupan di kampus, di lingkungan rumah, di tempat bekerja, dan lainnya. Namun kita harus punya modal kepahlawanan terlebih dahulu pada diri kita karena setiap manusia mempunyai potensi besar untuk menjadi pahlawan. Modal itu adalah naluri kepahlawanan, moralitas, intelektualitas, dan seterusnya. Karena untuk menjadi pahlawan kita harus memiliki sifat – sifat dasar pahlawan itu sendiri seperti kematangan pribadi, religius dan bermoral baik karena setiap pahlawan adalah contoh bagi generasi pada masanya kita tidak akan mentolerir pahlawan yang bermoral bobrok. Pahlawan adalah orang membawa cahaya terang ditengah gelap gulita keadaan zaman, maka pahlawan akan selalu diharapkan berbuat hal yang baik dan bukan kontradiksi dari harapan mereka. Oleh sebab itu akan berbeda pendapat orang tentang pahlawan mereka masing – masing karena ada satu tokoh yang dianggap pahlawan oleh pihak lain namun dianggap penjahat di pihak yang lainnya.

Jadi dalam menuju masa kebangitan zaman yang akan mencari pahlawan itu sendiri namun akan ada pahlawan yang menjadi pahlawan karena zaman menemukannya sebagai seorang terkenal namun asa juga pahlawan yang akan ditemukan karena dia memang dibutuhkan zaman itu sendiri, tipe yang kedua inilah yang akan membawa kepada titik awal masa kebangkitan menuju kebangkitan yang sesungguhnya. Akan di butuhkan banyak pahlawan dalam membawa zaman ke titik awal kebangkitan karena pada masa ini akan banyak orang yang di butuhkan kontribusinya di banyak lini kehidupan sehingga seluruh orang haruslah menyadari pentingnya kontribusi pribadi terhadap semua perubahan yang ada sehingga perubahan dalam sekup yang besar tidak terhambat karena semua orang bertindak baik dalam waktu yang bersamaan dan kebangkitan itu akan dirasakan semua pihak dalam saat yang sama. Tidak menjadi penting siapa yang ditemuakan public atau media siapa yang jadi pahlawan yang karena semua orang berusaha menjadi baik atau pahlawan dalam lini kehidupan mereka. Contoh yang paling dekat adalah pilkada, ada orang yang dalam pilkada sebagai kandidat, ada juga pemilih. Nah, dalam contoh ini tentu yang akan dianggap pahlawan adalan sang kandidat terpilih yang akan membawa perubahan fundamental setelah mereka memimpin, itulah yang saya sebut pahlawan yang ditemukan public atau mungkin media, namun ada peran yang sangat penting yaitu peran pemilih, kalau saja para pemilih ini tidak menggunakan haknya untuk memilih atau memilih hanya sekedar memilih dan seterusnya menyerahkan perubanan ini kepada orang yang dipilihnya sementara mereka tenang-tenang saja dirumah menunggu pengumuman perubahan itu dilakukan orang yang dipilihnnya dan ketika orang yang dipilihnya itu gagal membawa perubahan berarti di akan menyesal telah memilih dan akan menyalahkan orang yang dipilihnya tadi. Tentu sangat tidak adil jika itu dilakukan oleh seluruh pemilih yang ada di negeri ini, haruslan ada orang yang tidak hanya sekedar memilih saja namun berusaha melakukan hal yang terbaik dan berusaha menggugah atau mengajak orang lain untuk melakukn hal terbaik untuk membantu perubahan yang mereka harapkan dari pemimpin yang mereka pilih. Maka akan terjadi sebuah perubahan yang dirasakan masyarakat hingga lini terkecil dalam masyarakat dan tidak akan terjadi lagi apatisme terhadap pemimpin, tentu saja selama pemimpin itu memang benar-benar amanah. Jadi akan terjadi sinergi antara pemimpin dan rakyatnya dan akan terjadinya harmonisasi dalam kehidupan sehari-hari.

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »