Parlemen Mesir Dibubarkan

Pengadilan tinggi Mesir pada Kamis waktu setempat membubarkan parlemen yang baru beberapa bulan terbentuk karena dinilai invalid. Mengisi kekosongan, pengadilan memutuskan pemerintahan militer sementara menduduki kursi parlemen dan merancang konstitusi.

Diberitakan CNN, Kamis 14 Juni 2012, keputusan pengadilan ini menimbulkan gejolak baru di masyarakat Mesir yang tengah menikmati euforia demokrasi, dua hari jelang pemilihan presiden. Mereka khawatir, lepas dari cengkeraman diktator Hosni Mubarak, Mesir kembali dikuasai diktator lain yang lebih buas.

Pembubaran diputuskan pengadilan setelah pemilihan parlemen tahun lalu dinilai menyalahi konstitusi. Pada pemilu parlemen akhir tahun lalu, kursi yang seharusnya dua pertiga milik partai dan sepertiga milik kelompok independen, diborong oleh partai-partai Islam besutan Ikhwanul Muslimin (IM).

Pengadilan mengatakan bahwa keputusan memberikan kursi kepada kandidat IM dinilai tidak adil dan diskriminatif terhadap para calon independen yang mendapat suara sedikit. Dinyatakan invalid, pengadilan membubarkan parlemen dan tidak akan dilakukan pemilu ulang.

Ditetapkan sebagai pengganti parlemen sementara, Dewan Tertinggi Angkatan Bersenjata Mesir (SCAF) sekarang memegang kendali penuh legislatif. Rencananya hari ini, militer Mesir akan mengumumkan 100 orang yang ditugaskan merancang konstitusi baru.

Selain membubarkan parlemen, pengadilan juga memutuskan bahwa calon presiden Ahmed Shafiq berhak untuk maju dalam pilpres putaran kedua melawan Mohamed Mursi, calon dari IM. Pengadilan mengatakan bahwa Mursi boleh dipilih, walaupun dia bekas Perdana Menteri dan komandan militer di era Mubarak.

Dua keputusan pengadilan ini tidak ayal menimbulkan keresahan di masyarakat. Polisi dan militer berjaga di depan gedung pengadilan, sementara para demonstran meneriakkan protes, berusaha maju ke arah kawat berduri. "Turun-turunkan militer," teriak mereka sambil melemparkan batu. Protes juga digelar di Lapangan Tahrir.

Anggota Partai Kebebasan dan Keadilan, salah satu partai IM, Mohamed el-Beltagy, mengatakan bahwa keputusan tersebut adalah bentuk kudeta oleh militer kepada parlemen. "Militer melakukan kudeta dengan cara turut campur dalam tahapan yang paling penting bagi sejarah negara," kata Beltagy.

Dalam pernyataannya, IM mengatakan bahwa Mesir sedang menuju kepada masa-masa yang berbahaya, lebih berbahaya daripada hari-hari terakhir kepemimpinan Mubarak. "Seluruh upaya demokrasi dengan revolusi bisa musnah dan dikuasai oleh tangan-tangan yang menjadi simbol kepemimpinan sebelumnya," tulis IM, dilansir Reuters.

sumber : vivanews

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »