Saat Kesendirian Menghantui Dakwah

ilustrasi: google.com
Oleh: Deddy Sussantho

Adakah yang dapat diharapkan dari sebuah kesendirian, jika ternyata kesendirian itu membawa kita pada sebuah kehampaan yang melemahkan? Bila itu adanya, maka sadarilah, tak ada kesendirian dalam dakwah ini. Tak ada kesendirian yang sejati bagi seorang da’i. Karena kesendirian tak selaras dengan tabiat dakwah ini yang semestinya berjama’ah, bertabur ukhuwah.

Kesendirian itu hanya ada bagi mereka yang sengaja memenjarakan dirinya pada kesunyian yang dingin. Dirinya keluar dari hangatnya geliat perjuangan dan kebersamaan, yang kemudian ia jadikan kekecewaan-kekecewaan sebagai kambing hitam, yang akhirnya melahirkan ketidakbergerakan bagi dirinya. Padahal, kekecewaan merupakan bukti adanya tabir hikmah yang mungkin saja belum tersibak.

Saudaraku, masihkah kesendirian itu mengebiri langkah kita, sehingga karena kesendirian, kita merasa tak mampu bergerak dan beramal? Sementara Rasulullah SAW selalu bergerak menuju kejayaan; Meninggalkan kelemahan; Melepaskan kesunyian. Beliau tak ingin kesendirian itu melemahkan dirinya. Itu sebabnya beliau mengajak istrinya, Siti Khodijah, sebagai orang kedua yang menerima kebenaran ini setelahnya, sehingga dirinya keluar dari kondisi kesendirian kala pertama menapaki jalan dakwah ini.

Begitu pula saat berhijrah ke Yatsrib dan melepaskan diri dari cengkraman orang-orang kafir Quraisy, Rasulullah SAW pun mengikutsertakan sahabatnya, Abu Bakar ash-Shidiq. Saat para sahabat gamang menyikapi perjanjian al-Hudaibiyah, sehingga tak ada yang merespon perintahnya, Rasulullah SAW menemui istrinya, Ummu Salamah. Saat menghadapi suatu persoalan, Rasulullah SAW sering menemui sahabatnya, Abu Bakar ash-Shidiq dan ‘Umar bin Khaththab, untuk meminta pendapat mereka.

Itulah yang dilakukan Rasulullah SAW, keluar dari kesendirian. Itu pula yang sekiranya kita temukan pada banyak kisah, seperti Nabi Musa a.s. yang ditemani Nabi Harun a.s.; Kaum Muhajirin yang dipersaudarakan dengan Kaum Anshar; Juga seperti saat Nabi Muhammad SAW menikahi Siti ‘Aisyah setelah menjadi duda karena ditinggal wafat Siti Khodijah. Semua itu demi mengusir kesendirian yang lekat dengan kerapuhan.
Lantas, buat apa selama ini kita menyendiri, Saudaraku? Segeralah keluar dari kesendirian. Berkumpullah dengan orang-orang yang dapat menyegarkan semangat kita dalam berjuang!
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [QS. At-Taubah (9): 119]
Saudaraku, masihkah kesendirian itu menyesakkan dada kita, jika ternyata yang disebut ‘sendiri’ itu menunjukkan keberadaan orang-orang yang tetap istiqomah di saat teman-temannya yang lain telah lelah dan kalah? Ya, jumlah para pemenang memang selalu sedikit. Lebih banyak mereka yang kalah. Untuk itu berbanggalah bila kita masih termasuk ke dalam jajaran yang sedikit itu. Karena Allah SWT masih memberi kita nikmat berdakwah, berperan aktif dalam memerjuangkan kebenaran, tatkala yang lainnya banyak yang terseret arus kekeliruan!

Penggalan sejarah telah mengajarkan kita betapa kemuliaan jalan ini tidak ditentukan oleh banyaknya orang di dalamnya, melainkan seberapa teguh orang-orang yang berjuang, meskipun mereka berjumlah sedikit. Ingatlah tatkala perang Badr, kaum Muslimin yang berkisar tiga ratus orang, berhadapan dengan kafir Quraisy sebanyak seribuan orang. Kala itu kaum Muslimin tidak gentar ataupun mundur, hingga kemudian Allah SWT memberikan kemenangan kepada mereka. Dan bukankah Allah SWT telah menjanjikan bantuan dan kemenangan bagi mereka yang istiqomah?

(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu:

“Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” 

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu), (Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat:
“Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka, (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. [QS. Al-Anfaal (8): 9-13]

Secara kuantitas, kaum Muslimin kerap berperang menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih besar dari mereka. Seperti di perang Khandaq, Khaibar, Mu’tah, dan lainnya. Namun selalu Allah SWT memberikan kemenangan di pihak kaum Muslimin! Cukuplah perang Uhud menjadi pelajaran bagi kita, kala perjuangan ini dikotori oleh nafsu duniawi, maka kekalahan akan menghiasi kita. Begitu juga saat perang Hunain, yang kali ini jumlah kita lebih banyak dari musuh. Kaum Muslimin berjumlah 12.000 sementara musuh hanya 4.000.

Namun rupanya jumlah yang banyak ini menjadikan kita merasa di atas angin, hingga ada sekerat kesombongan yang hinggap kepada mereka yang hatinya berpenyakit. Lantas kesombongan itulah yang akhirnya membuat mereka lari tunggang langgang kala berhadapan musuh yang jumlahnya hanya 4.000. Mereka lari kocar kacir meninggalkan pertempuran, bahkan meninggalkan Rasulullah SAW yang tengah berada di situ! Mereka kemudian dipanggil oleh ‘Abbas ibn Abdul Muththalib untuk kembali. Berapakah yang kembali? Hanya sekitar 600 orang yang terpanggil! Kini kondisinya menjadi terbalik, 600 melawan 4.000! Namun karena 600 orang itu ikhlas serta teguh dalam berjuang, Allah SWT memberikan kemenangan bagi mereka.

Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu diwaktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah (mu), maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari kebelakang dengan bercerai-berai. [QS. At-Taubah (9): 25]
Saudaraku, janganlah bersedih atas jumlah kita yang sedikit! Karena di balik kesedikitan atau kesendirian itu, ada pelajaran berharga untuk kita: Allah SWT tengah menjadikan kita lebih kuat dari sebelumnya. Laiknya emas yang dibakar dan diolah untuk menghilangkan kotoran yang melekat, sehingga nilainya menjadi lebih mahal dari sebelumnya.

Kini, tak perlu merisaukan mereka yang pergi. Tak perlu takut pada pengkhianatan mereka. Karena cepat atau lambat mereka akan kembali, ataupun terganti. Allah SWT akan mengganti mereka dengan orang yang lebih baik. Kalau bukan hari ini, mungkin esok. Kalau bukan esok, mungkin lusa. Yang perlu kita tahu adalah, kita harus tetap berjuang, baik hari ini, esok, lusa, dan seterusnya!

Kuatkan langkah kita dalam berpijak di jalan ini dengan memerkuat kepemahaman dan kesungguhan dalam beramal. Kelemahan mereka janganlah membuat kita juga melemah. Karena yakinlah, kita berdakwah bukan karena ada hal-hal yang menyenangkan, seperti teman-teman yang menyenangkan, amanah yang menyenangkan, ataupun fasilitas yang menyenangkan. Karena apakah ketika tidak ada teman-teman yang menyenangkan, amanah yang menyenangkan, dan fasilitas yang menyenangkan, kita akhirnya tidak berdakwah? Tidak, Saudaraku! Dakwah kita bukan karena senang, melainkan karena cinta. Cinta kita kepada-Nya. Itulah yang menjadikan segala ketidakenakan yang kita rasakan, menjadi terasa menyenangkan. Biarlah ditinggal rekan-rekan seperjuangan, asalkan kita tidak ‘ditinggalkan’ oleh-Nya saat berjuang.

Itulah yang kita yakini. Sehingga laiknya main catur, kesedihan karena kehilangan satu ‘ster’ tak akan membungkam perjuangan kita. Karena kita tahu, masih ada ‘pion-pion’ yang lain, yang lebih siap untuk menjadi ‘ster-ster’ selanjutnya!
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. [QS. Ali ‘Imron (30): 139]
Saudaraku, masihkah kesendirian itu menyeret kita pada kesunyian tak berujung, jika ternyata tak ada kesendirian yang sejati di dakwah ini. Karena Allah SWT selalu bersama kita. Tak satupun tetes peluh dan tangis terjatuh, melainkan Allah SWT mengetahuinya!

Saudaraku, perjuangan ini akan terasa berat jika kita bergerak sendiri. Maka janganlah bergerak sendiri. Ajak Allah SWT dalam dakwah kita. Hadirkan Allah SWT dalam setiap langkah kita. Adakah yang lebih meneguhkan hati kita daripada selain-Nya? Maka mengapa kita masih merasa terasing dalam kesendirian, Saudaraku? Janganlah merasa sepi. Karena kita tak pernah berjuang sendiri. Ada Allah SWT yang memberikan kita kemudahan. Ada Allah SWT yang memberikan kita kemenangan. Tugas kita hanyalah berusaha secara maksimal, maka bertawakallah agar Allah SWT menggenapkan hasilnya. Untuk itu, doa menjadi senjata utama kita dalam berdakwah. Kalaupun ada saudara-saudara kita yang pergi, hanya Allah SWT-lah yang mampu membawa mereka kembali ke jalan ini. Maka kepada siapa lagi kita memohon selain kepada-Nya, agar mereka yang semula pergi dapat kembali dan memperkuat barisan dakwah ini? Hingga kemudian kita benar-benar keluar dari kesepian dan merasakan betapa hangatnya ukhuwah.

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. [QS. Ali ‘Imron (3): 160]
Tak ada yang sulit ketika Allah SWT jadikannya mudah. Tak ada yang berat ketika Allah SWT jadikannya ringan. Tak ada yang rumit ketika Allah SWT jadikannya sederhana. Itulah yang disampaikan Rasulullah SAW kepada Abu Bakar ash-Shidiq yang saat itu tengah gelisah kala berhijrah dan bersembunyi di gua,
“Janganlah kamu beduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” [QS. At-Taubah (9): 40]
Saudaraku, tak ada lagi istilah kesendirian dalam dakwah ini. Karena kesendirian hanya bagi mereka yang lemah dan tidak memiliki pelindung. Sementara kita meyakini, selalu ada Allah SWT yang menyertai kita. Buanglah jauh-jauh kesempitan di hati kita, yang pada akhirnya melahirkan prasangka negatif kepada-Nya, juga kepada saudara-saudara kita. Lapangkan dada kita, agar kita dapat lebih ikhlas, lebih sabar, lebih teguh, serta lebih jelas menyikapi takdir-takdir baik yang Allah SWT berikan pada kita, hingga tak luput kita bersyukur terhadap segala kondisi yang ada.

Bersemangatlah dalam dakwah, sebagaimana yang pernah disampaikan oleh ‘Umar bin Khaththab, “Jika ada 1000 orang yang membela kebenaran, aku salah seorang diantaranya. Jika ada 100 orang yang membela kebenaran, aku berada diantaranya. Jika ada 10 orang pembela kebenaran, aku tetap ada di barisan itu. Dan jika hanya ada 1 orang yang tetap membela kebenaran, maka akulah orangnya!”
Allahu a’lam…


Referensi :
1. Sejarah Ringkas Muhammad SAW (Tahia al-Ismail)
2. Artikel di Kompasiana.com, tanggal 25 Arpil 2012, berjudul “Man Jadda Wajada” –Kesungguhan Akan Membuahkan Hasil (Ruli Mustafa)

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar