Setitik Nila Pada Sebelanga Susu


Kita hidup dalam sistem. Di mana setiap satuannya akan saling memengaruhi satuan yang lain. Maka tidaklah kita berbuat, melainkan akan ada dampaknya bagi orang lain atau lingkungan sekitar. Cepat atau lambat.

Begitu pula dalam dakwah. Jalan yang mulia ini dibangun di atas sebuah pondasi dan susunan yang rapi, terbingkai dalam ‘amal jama’i. Serupa bangunan yang kokoh (QS. 61:4), setiap komponennya saling memengaruhi, saling menguatkan. Jika saja ada satu bagian yang bermasalah pada bangunan tersebut, maka akan ada pengaruhnya kepada bagian yang lain. Besar atau kecil.

Ya, kalau saja setiap dari kita menyadari kenyataan ini, bahwa apa yang kita lakukan akan memiliki dampak kepada orang lain dan jama’ah, insyaAllah dakwah kita akan berjalan lurus, penuh berkah. Bukankah pelumas yang ’melicinkan’ dakwah ini terletak pada keberkahan dari-Nya? Tanpa itu, apa jadinya dakwah kita?

Namun, apakah benar kita tidak menyadari kenyataan ini? Sayangnya ada juga yang sadar, tapi seolah tidak cukup peduli. Contoh kecil adalah keterlambatan. Hingga sekarang ini masalah klasik itu masih saja terjadi. Secara teoritis, ia tahu kalau menyia-nyiakan waktu itu buruk, namun masih saja ia lakukan.

Kita memang perlu belajar dari ilmu, bukan dari pengalaman. Karena pengalaman itu bagian dari ilmu, tetapi ilmu tidak selalu berupa pengalaman. Apakah harus datang banjir dulu, baru kita memahami bahwa membuang sampah sembarangan itu tidak baik? Apakah harus terjadi kehancuran dakwah dulu, baru kita mengerti betapa berharganya waktu, betapa mahalnya integritas, betapa besarnya porsi ruhiyah?

Saudaraku, itu suatu hal yang sangat prinsip. Bahkan pengetahuan dasar yang sudah kita dapati sejak kanak-kanak, bahwa janganlah melakukan segala keburukan. Jika hal dasar ini saja kita lebih permisif dan menganggapnya remeh, lalu bagaimana tentang kemaksiatan yang kita anggap lebih besar dari itu? Seperti pacaran, memfitnah, mencuri, meninggalkan salat, dan lain sebagainya. Astagfirullah... Tidakkah kita memikirkan betapa besar pengaruhnya terhadap dakwah ini? Jangan-jangan yang membuat dakwah ini terasa kering, kurang sukses, atau bahkan terseok-seok, lantaran Allah tidak menurunkan keberkahan-Nya kepada kita. Kenapa? Karena masih adanya kezaliman di antara kita. Inilah yang Allah peringatkan pada kita, tentang sebuah siksa yang tidak hanya menimpa orang-orang zalim saja di antara kita (QS. 8:25).

Tidaklah salah, jika ada pepatah yang mengatakan, ”Karena nila setitik, rusak susu sebelanga.” Bukankah hal ini juga yang dikuatirkan Umar bin Khattab ketika hendak berjihad? Beliau bukannya takut pada banyaknya jumlah musuh saat itu. Bukan pula karena persenjataan musuh yang lebih canggih. Tetapi beliau cemas jika ada kemaksiatan yang dilakukan di tubuh kaum Muslimin itu sendiri. Beliau takut Allah tidak menurunkan keberkahan-Nya manakala pasukan Muslimin masih bermaksiat. Astagfirullah...

Seperti jama’ah yang bersifat sistemik, maka dampak kemaksiatan pun bersifat sistemik. Ibnu Qoyyim al-Jauziyah pernah meneliti dampak kemaksiatan terhadap orang yang melakukannya. Hasilnya sungguh menakjubkan. Orang yang bermaksiat akan terhalang dari ilmu, terhalang dari rezeki, berjarak dengan Allah, berjarak dengan orang baik, menutup hati, sulit urusannya, dan lain sebagainya. Kesemuanya tak kurang dari 22 poin.

Dampak kemaksiatan yang dilakukan kader dakwah seolah bangunan yang sudah bertahun-tahun dibangun, tapi luluh lantah dalam hitungan detik. Ia menjadi bom waktu yang dapat menghancurkan. Ia menggerogoti pelakunya pada kematian hati, dan perlahan tapi pasti membuat jama’ah terkotori. Kalau sudah begitu, kita atau mereka yang salah bukan lagi menjadi masalah. Ini sudah menjadi perkara sistemik. Mengakar kuat pada karakter pribadi dan terintegrasi pada kondisi jama’ah.

Itu sebabnya dalam jama’ah ini diperlukan ukhuwah yang solid, sehingga analogi satu tubuh dan saling merasakan itu dapat benar-benar terealisasi. Sehingga tak ada lagi anggapan, “Saya yang bermaksiat, apa urusannya dengan mereka?” atau “Dia yang bermaksiat, kenapa kita yang jadi repot?”

Sudah kewajiban kita untuk saling meningatkan, menegur, atau bahkan mengambil tindakan tegas manakala ada saudara kita yang tetap bermaksiat. Karena ridho Allah ada bersama jama’ah. Maka sepatutnya kita menjaga kondisi jama’ah ini agar tetap ‘bersih’. Karena janggal rasanya, kita menyeru kepada hal-hal yang ‘bersih’, sementara kita belum memahami betul bagaimana itu ‘bersih’ itu.

Saudaraku, mari kita berhati-hati dalam meniti jalan ini. Sehingga kita tidak terjatuh, apalagi membuat orang lain terjatuh. Karena kita tahu, setan tak pernah jemu merayu. Bahkan ia bermain pada tataran yang halus sekalipun. Sehingga tak jarang kita tergoda dan terjun bebas menerjang dosa. Sadar atau tidak.

Alangkah bijak apa yang pernah disampaikan Aa’ Gym, ”Mulailah dari diri kita sendiri, dari hal yang kecil, dan dari saat ini.”

Allahu a’lam...

Oleh : Deddy Sussantho

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »