Inilah Sosok Penerjemah Quran Pertama Jepang

Islam di Jepang banyak dipengaruhi oleh kedatangan muslim melayu. Kaum muslim Melayu mulai berdatangan ke Jepang pada akhir abad 19. Orang Jepang pertama yang pergi haji adalah Kotaro Yamaoka. Ia memeluk Islam setelah bertemu dengan seorang penulis Rusia, Abdur Rashid Ibrahim, di Bombay pada 1909. Dia mengubah namanya menjadi Omar Yamaoka. Dia mendapat izin dari Sultan Abdul Hamid II untuk membangun sebuah masjid di Tokyo. Persetujuan tersebut diberikan dan masjid selesai pada 1938.

Kehidupan masyarakat Muslim di Jepang dimulai saat kedatangan beberapa ratus Turkmen, Uzbek, Tajik, Kyrgyzs dan pengungsi Muslim dari Asia Tengah Kazakhstan dan Rusia setelah Revolusi Bolshevik selama Perang Dunia I. Umat muslim tersebut diberi tempat oleh Jepang dan menetap di beberapa kota utama. Beberapa orang Jepang memeluk Islam setelah bertemu dengan umat Islam.

Ketika masyarakat Muslim tumbuh jumlahnya, beberapa masjid dibangun. Masjid yang paling penting adalah Masjid Kobe yang dibangun pada 1935 (merupakan masjid yang tersisa setelah bencana gempa bumi melanda Jepang). Saat ini ada antara 30 dan 40 masjid satu lantai di Jepang, ditambah lagi 100 lebih musala di apatemen-apartemn.

Selama perang dunia I banyak orang Jepang yang memeluk Islam. Mereka kemudian kembali ke Jepang dan mendirikan organisasi Muslim pertama Jepang, yaitu Japan Muslim Association pada tahun 1953 di bawah Sadiq Imaizumi.

Salah satu muslim pertama Jepang saat itu adalah Umar Mita. Mita adalah nama yang paling menonjol dalam sejarah Islam di Jepang. Dia adalah kebanggaan Muslim Jepang. Umar Mita menjabat sebagai presiden kedua Japan Muslim Association. Alquran mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang dilakukan oleh Umar Mita pada tahun 1972.

Mita lahir sebagai Ryoichi Mita pada 19 Desember 1892 dari keluarga Samurai (prajurit) Buddha Chofu kota di Yamaguchi, Jepang. Dia lulus dari Yamaguchi Comercial College pada Maret 1916. Saat itu dia berumur 24 tahun. Ia mengunjungi China dan belajar bahasa Cina. Ia bergaul dengan Cina Muslim dan menyukai cara hidup mereka. Dia terkesan karena ia tidak melihat kehidupan seperti itu pada masyarakat Jepang. Pada tahun 1920, ketika ia berusia 28 tahun, ia menulis sebuah artikel "lslam in China" di sebuah majalah Jepang yang disebut "Toa Keizai Kenkyu". Ini adalah dampak pertama keislamannya.

Mita lalu bertemu Haji Omer Yamaoka, Muslim Jepang pertama yang melakukan haji pada tahun 1909. Setelah kembali ke Jepang pada tahun berikutnya, Yamaoka memulai sebuah perjalanan ke seluruh pulau-pulau Jepang untuk memperkenalkan dan menjelaskan Islam. Pada tahun 1912, Yamaoka menulis dan menerbitkan sejumlah buku tentang perjalanannya melalui Saudi dan pada kacamata grand haji di Makkah. Pada tahun 1921 Mita kembali bertemu Yamaoka untuk belajar lebih banyak tentang Islam. Akhirnya Mita memeluk Islam pada tahun 1941 saat ia berusia 49.

Pada usia 60, Mita memilih untuk mengabdikan dirinya untuk kepentingan Islam dan untuk pembelajaran bahasa Arab. Pada tahun 1957 ia pergi ke Pakistan untuk menghadiri undangan dan melakukan perjalanan ke berbagai tempat sehubungan dengan aktivitas dakwah. Pada tahun 1958 ia melakukan haji. Pada tahun 1960, setelah kematian mendadak Sadiq Imaizumi, presiden pertama dari Asosiasi Muslim Jepang, Mita terpilih sebagai presiden kedua menggantikannya. Selama masa jabatannya sebagai presiden JMA, ia menulis buku "Understanding Islam" dan “An Introduction to Islam.” Dia juga menerjemahkan buku Maulana Muhammad Zakaria Hayat-e-Sahaba (Kehidupan para sahabat) dalam bahasa Jepang.

Tiga terjemahan Alquran berbahasa Jepang diterbitkan pada tahun 1920, 1937 dan 1950. Terjemahan keempat diterbitkan pada tahun 1957. Mita adalah Muslim pertama yang menerjemahkan Alquran dalam bahasa Jepang.

Pada tahun 1968, terjemahan dari teks tersebut selesai dan revisi pertama diterima oleh Japan Muslim Association. Pada bulan Juni 1970, Mita menyerahkan naskah revisi ke "Muslim World League" (Liga Muslim Dunia di Makkah). Naskah ini benar-benar diperiksa oleh komite ulama dan setelah sekitar enam bulan setelahanya pekerjaan itu disetujui dan selanjutnya dicetak oleh Perusahaan Percetakan Takumi Kobo Hiroshima.

Akhirnya pada tanggal 10 Juni 1972, cetakan terjemahan Alquran dalam bahasa Jepang telah selesai dan edisi pertama diterbitkan setelah 12 tahun melalui usaha yang keras. Itu adalah momen menggembirakan untuk Mita atas hasil kerja kerasnya di usianya yang ke-80. Dia meninggal pada tahun 1976 di usia 82.


Sumber: http://muslimvillage.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »

1 komentar:

komentar
13 May 2013 at 08:08 delete

bagaimana dengan Sakamoto Ken-ichi ? yang well-known sbagai penerjemah prtama teks Al Qur'an ke bahasa Jepang ?

Reply
avatar