Pemuda Berjiwa Pahlawan


Ketika di Sekolah Dasar dulu kita sering diminta menghafal nama-nama pahlawan nasional dengan keunggulannya masing-masing, asal daerah dan kehebatannya. Tentunya nama-nama seperti Patimura, Cut Nyak Dien, Jendral Sudirman, Pangeran Diponegoro, Bung Tomo, sudah tidak asing lagi di telingan kita. Mereka rela menyumbangkan jiwa dan raganya untuk kemerdekaan bangsa ini. Begitu kurang lebih guru kita menjelaskan.

Pahlawan mampu dikenang kepahlawananya bukan hanya karena sosoknya, namun karena karya fenomenalnya. Maka itulah mengapa pahlawan menjadi contoh para generasi setelahnya untuk menciptakan karya fenomenal sepertinya, meneruskan perjuangan dan doktrinasi ideologisnya.

Pahlawan tentu saja satu paket dengan sisi kemanusiaan yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari sisi fitrah manusia. Namun yang membedakannya dengan orang kebanyakan adalah bagaimana dia bisa mampu menempatkan sisi kemanusiaannya ke dalam rongga dadanya di bagian yang paling pojok sehingga masih banyak ruang di dalam rongga dadanya tempat bersemayamnya semangat dan meletakan naluri kepahlawanannya.

Dapat dipastikan diantara semua pahlawan manapun yang dicetak dan tercatat dalam sejarah peradaban manusia adalah dari kalangan pemuda. Walaupun di negeri kita gelar itu diberikan kepada orang yang berjasa namun dia sudah meninggal sehingga diberi penghormatan dengan gelar pahlawan mengikuti gelar almarhumnya.

Mereka menciptakan karya fenomenal dalam keadaan sebaik-baiknya, yaitu ketika muda. Walaupun memang ada juga mereka yang sudah berumur masih memiliki jiwa itu, namun tetap saja jiwa itu tumbuh di waktu muda dan masih ada sampai tua. Karena kepahlawanan itu telah menaluri dan medarah daging.

Masa kepahlawanan itu tentu saja tidak mungkin diisi oleh satu orang yang kita kenal dengan sebutan pahlawan itu. Namun banyak pahlawan yang menjadikannya pahlawan, hanya saja siapa yang lebih dominan dan mampu mengendalikan yang itu saya sebut dengan "pemimpin pahlawan". Tentu bagi para pahlawan tidak penting ditempatkan dimana mereka dalam sejarah. Dimakamkan di taman makam pahlawan atau terkubur masal bersama mayat-mayat lainnya, tentu tak jadi masalah bagi mereka para pahlawan. Karena yang abadi adalah perjuangan mereka, itulah relung kepahlawanan yang lahir dari ketulusan dan keberimanan yang tegas.

"Peradaban-peradaban besar dunia adalah karya komulatif antar generasi". Oleh karena itu bisa jadi bukan kita yang merasakan hasil perubahan itu akan tetapi generasi setelahnya. Karena hakikat kepahlawanan adalah menyelamatkan generasi.

Di saat bangsa ini kering akan kepahlawanan yang kita inginkan secara ideal tampil menjadi oase di tengah kering kerontangnya moral dan nasionalisme, maka disinilah naluri seorang pahlawan akan hadir tumbuh sedikit demi sedikit. Tentu bukan dari generasi yang sudah lapuk. Mereka akan hadir dari lapisan demografi masyarakan yang disebut dengan pemuda.

Oleh sebab itu yang harus diselamatkan dari tanah negeri ini bukanlah semata – mata minyak buminya, hasil tambangnya, tetapi yang tak kalah penting ialah pemudanya. Mereka yang akan tetap menyalakan api perubahan dalam dadanya hingga ia mampu berbuat untuk negerinya. Jika mereka diabaikan, maka siap-siap kita akan merasakan penderitaan yang berkepanjangan.

Maka oleh karena itu, menjadi suatu keharusan bagi kita para pemuda untuk melatih jiwa kita agar dapat memberi lebih banyak dari pada meminta, berbuat lebih banyak dari pada mengeluh, menciptakan lebih banyak dari pada mencela, mencetak lebih banyak dari pada merusak. Sehingga akan muncul dimana nanti masa kepahlawanan itu tiba, dan kita adalah bagian dari investor terhadap kepahlawanan itu. Walaupun kita tidak dikenal dalam sejarah, namun kita akan dikenal oleh alam yang menjadi sejarah dan Maha Pencipta Alam.



*KPW

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »