Tangis, Energi Setiap Pahlawan

Oleh. Kurnia P. Wijaya

Pahlawan sering kita personifikasikan sebagai seorang yang gagah, berani, berbadan tegap, sikapnya tegas, lugas dan kuat. Itu adalah hal yang wajar karena ekspektasi kita terhadap pahlawan adalah orang yang sempurna atau mendekati sempurna dan berbeda dengan orang kebanyakan. Karena itulah memang yang diharapkan zaman terhadap pendobraknya, bukan hanya orang beruntung yang terkenal dan dianggap pahlawan namun tidak memiliki fitrah pahlawan.

Namun para pahlawan itu pada nyatanya juga memiliki sifat kemanusiaan yang ada di relung mereka yang memang merupakan bawaan fitrah manusia dan tidak bisa tidak dimiliki oleh seorang manusia sekalipun ia adalah pahlawan. Salah satu fitrah itu adalah menangis. Tangisan adalah ekspresi jiwa yang membuncah atas suatu keadaan. Setiap manusia pasti pernah menangis dalam hidupnya, karena hidup adalah kumpulan segala nuansa jiwa yang bisa membuat senang bisa juga membuat sedih. Begitu juga pahlawan, mereka memiliki sifat lahiriah sebagai seorang manusia yang normal.

Namun yang membedakan adalah tangisan seorang pahlawan itu adalah sumber energi jiwannya. Setiap pahlawan pasti bertindak atas dasar kegundahan. Kegundahan akan zaman yang ia diami sekarang, sehingga itu pasti membuat perasaan sedih dan menangis walau dalam hati. Bukan tidak mungkin membuncah juga menjadi air mata yang mengalir deras. Itu lah tangisan yang bernaluri pahlawan yang mengalir ikhlas dan tulus karena komulasi keimanan yang sangat mendalam.

Dari Mutharrif –yakni bin Abdillah bin Asy Syikhkhir- dari bapaknya –yakni Abdullah bin Asy Syikhkhir Radhiallaahu anhu - ia berkata, yang artinya:
Aku datang menemui Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam ketika beliau sedang shalat. Dari rongga dada beliau keluar suara seperti bunyi air yang tengah mendidih di dalam kuali, disebabkan tangis beliau.”(HR: Abu Daud).

Inilah sumber energi jiwa Rasulullah, seorang pahlawan sepanjang zaman yang merasakan kegundahan dan kecintaan yang sangat akan umat dan kesadaran yang tinggi akan ketidak-berartian diri tanpa pertolongan Allah meskipun ia seorang Rasul. Dapat kita bayangkan bagaimana dahsyatnya nuansa jiwa Rasulullah sampai menangis dan terdengar seperti suara kuali yang sedang mendidih karena menahan tangis yang amat sangat.

Diantara sahabat banyak pula kita kenal pahlawan fenomenal yang mencucurkan air matanya. Salah satunya kita kenal Umar bin Khattab, seorang kekar yang ditakuti para jin, ditakuti lawan dan dihormati kawan serta pemimpin yang sangat amanah. Namun Umar yang memiliki gambaran sebagai sahabat yang paling kuat fisiknya dan kekar badannya, ternyata tetap dapat menangis sejadi-jadinya.

Dari Abdullah bin Syaddad berkata, “Aku pernah mendengar isak tangis Umar, padahal ketika itu aku berada di shaf paling belakang pada shalat shubuh. Ketika itu ia sedang membaca,
 “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.”
(QS. Yusuf: 86)
Dia terus menangis hingga air matanya mengalir di atas kedua selangkangnya. Imam An-Nawawi –rahimahullah- berkata, “Dalam riwayat lain disebutkan bahwa itu terjadi ketika shalat Isya dan itu menunjukkan bahwa Umar bin al-Khaththab terus mengulang-ulang ayat tersebut.”

Begitu juga para pahlawan kita dalam membela negara ini sampai kita rasakan kemerdekaan. Dengan takbir mereka mengusir penjajah, juga dengan tangis harap kepada Tuhannya agar diberikan kekuatan dan kemenangan, karena mereka sadar betul kemenangan itu adalah hanya milikNya, maka hanya Dia yang dapat memberikannya kepada bangsa kita pada saat itu. Jika saja tidak ada air mata yang tertumpah dari mata para pahlawan, niscaya bangsa ini tidak akan pernah merdeka.

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »