NEWS UPDATE :

Air di Bak Mandi Kecil Apakah Suci dan Mensucikan?

Rabu, 12 Desember 2012


Istilah musta'mal adalah istilah buat air yang sebelumnya telah digunakan untuk melakukan thaharah, yaitu mandi janabah atau wudhu'. Kalau cuma dipakai untuk mandi biasa, atau cuci muka dan cuci tangan, tidak disebut dengan istilah musta'mal.
Dan air musta'mal itu baru dianggap musta'mal manakala jumlahnya sedikit. Kalau air laut misalnya, siapa saja boleh berwudhu' di dalamnya, dan sisa air bekas wudhu' yang ada di lautan lepas, tentu saja tidak dianggap musta'mal.

Artinya, istilah musta'mal terbatas pada air yang jumlahnya sedikit, atau kita sering juga menyebutnya dengan istilah al-ma'ul qalil. Sedangkan air dalam jumlah yang besar, meski sudah dipakai untuk mandi janabah dan wudhu', tidak pernah disebut dengan istilah musta'mal.

2 Qullah
Sebagian ulama sering menyebut-nyebut istilah 2 qullah untuk membatasi air yang sedikit. Artinya, kalau ada air yang jumlahnya kurang dari 2 qullah, lalu kemasukan air yang sudah digunakan untuk berwudhu' atau mandi janabah, maka air itu disebut dengan air musta'mal.
Mungkin anda bertanya, siapa yang menetapkan ukuran 2 qullah itu? Jawabnya adalah Rasulullah SAW yang menetapkannya. Sebab dalam salah satu haditsnya, beliau telah menetapkan bahwa jumlah minimal air yang banyak adalah 2 qullah.

Abdullah bin Umar ra. Mengatakan, “Rasulullah SAW telah bersabda: "Jika air itu telah mencapai dua qullah, tidak mengandung kotoran. Dalam lafadz lain: "tidak najis". (HR Abu Dawud, Tirmidhi, Nasa'i, Ibnu Majah)

Hadits inilah yang mendasari keberadaan volume air dua qullah, yang menjadi batas volume air sedikit. Sebagian ulama menshahihkan hadits ini, tapi ada juga sebagian yang mempermasalahkannya. Anggaplah misalnya, kita termasuk orang yang menerima hadits ini sebagai dasar, maka tetap saja masih ada masalah, yaitu berapa literkah 2 qullah itu?.

Istilah qullah adalah ukuran yang digunakan di masa Rasulullah SAW masih hidup. Bahkan 2 abad sesudahnya, para ulama fiqih di Baghdad dan di Mesir pun sudah tidak lagi menggunakan skala ukuran qullah. Mereka menggunakan ukuran rithl yang sering diterjemahkan dengan istilah kati.
Sayangnya, ukuran rithl ini pun tidak standar di beberapa negeri Islam. 1 rithl buat orang Baghdad ternyata berbeda dengan ukuran 1 rithl buat orang Mesir. Walhasil, ukuran ini agak menyulitkan juga sebenarnya.

Dalam banyak kitab fiqih disebutkan bahwa ukuran volume 2 qullah itu adalah 500 rithl Baghdad. Tapi kalau diukur oleh orang Mesir, jumlahnya tidak seperti itu. Orang Mesir mengukur 2 qullah dengan ukuran rithl mereka dan ternyata jumlahnya hanya 446 3/7 rithl.

Lucunya, begitu orang-orang di Syam mengukurnya dengan menggunakan ukuran mereka yang namanya rithl juga, jumlahnya hanya 81 rithl. Namun demikian, mereka semua sepakat volume 2qullah itu sama, yang menyebabkan berbeda karena volume 1 rithl Baghdad berbeda dengan volume 1 rithl Mesir dan volume 1 rithl Syam.

Lalu sebenarnya berapa ukuran volume 2 qullah dalam ukuran standar besaran international dimasa sekarang ini? Para ulama kontemporer kemudian mencoba mengukurnya dengan besaran zaman sekarang. Dan ternyata Dalam ukuran masa kini kira-kira sejumlah 270 liter. Jadi bila air dalam suatu wadah jumlahnya kurang dari 270 liter, lalu digunakan untuk berwudhu, mandi janabah atau kemasukan air yang sudah digunakan untuk berwudhu`, maka air itu dianggap sudah musta'mal.

Sudah Digunakan untuk Wudhu, Masih Bolehkah DigunakanWudhu' Lagi?
Lepas dari apa yang dimaksud dengan isitlah musta'mal dan berapa volumenya, masih ada satu lagi masalah, yaitu apakah air yang sudah digunakan untuk berwudhu' atau mandi janabah, masih boleh digunakan lagi untuk berwudhu' atau mandi?
Ternyata, tidak semua ulama sepakat dalam masalah ini. Berikut ini adalah beberapa cuplikan dari masing-masing mazhab tentang hukumnya:

a. Ulama Al-Hanafiyah
Menurut mazhab ini bahwa yang menjadi musta'mal adalah air yang membasahi tubuh saja dan bukan air yang tersisa di dalam wadah. Air itu langsung memiliki hukum musta'mal saat dia menetes dari tubuh sebagai sisa wudhu` atau mandi.
Air musta'mal adalah air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats (wudhu` untuk shalat atau mandi wajib) atau untuk qurbah. Maksudnya untuk wudhu` sunnah atau mandi sunnah.
Sedangkan air yang di dalam wadah tidak menjadi musta'mal. Bagi mereka, air musta'mal ini hukumnya suci tapi tidak bisa mensucikan. Artinya air itu suci tidak najis, tapi tidak bisa digunakan lagi untuk wudhu` atau mandi.

b. Ulama Al-Malikiyah
Air musta'mal dalam pengertian mereka adalah air yang telah digunakan untuk mengangkat hadats baik wudhu` atau mandi. Dan tidak dibedakan apakah wudhu` atau mandi itu wajib atau sunnah. Juga yang telah digunakan untuk menghilangkan khabats (barang najis).
Dan sebagaimana Al-Hanafiyah, mereka pun mengatakan bahwa yang musta'mal hanyalah air bekas wudhu atau mandi yang menetes dari tubuh seseorang. Namun yang membedakan adalah bahwa air musta'mal dalam pendapat mereka itu suci dan mensucikan.
Artinya, bisa dan sah digunakan digunakan lagi untuk berwudhu` atau mandi sunnah selama ada air yang lainnya meski dengan karahah (kurang disukai).

c. Ulama Asy-Syafi`iyyah
Air musta'mal dalam pengertian mereka adalah air sedikit yang telah digunakan untuk mengangkat hadats dalam fardhu taharah dari hadats. Air itu menjadi musta'mal apabila jumlahnya sedikit yang diciduk dengan niat untuk wudhu` atau mandi meski untuk untuk mencuci tangan yang merupakan bagian dari sunnah wudhu`. Namun bila niatnya hanya untuk menciduknya yang tidak berkaitan dengan wudhu`, maka belum lagi dianggap musta'mal. Termasuk dalam air musta'mal adalah air mandi baik mandinya orang yang masuk Islam atau mandinya mayit atau mandinya orang yang sembuh dari gila. Dan air itu baru dikatakan musta'mal kalau sudah lepas atau menetes dari tubuh. Air musta'mal dalam mazhab ini hukumnya tidak bisa digunakan untuk berwudhu` atau untuk mandi atau untuk mencuci najis. Karena statusnya suci tapi tidak mensucikan.

d. Ulama Al-Hanabilah
Air musta'mal dalam pengertian mereka adalah air yang telah digunakan untuk bersuci dari hadats kecil (wudhu`) atau hadats besar (mandi) atau untuk menghilangkan najis pada pencucian yang terakhir dari 7 kali pencucian. Dan untuk itu air tidak mengalami perubahan baik warna, rasa maupun aromanya. Selain itu air bekas memandikan jenazah pun termasuk air musta'mal. Namun bila air itu digunakan untuk mencuci atau membasuh sesautu yang di luar kerangka ibadah, maka tidak dikatakan air musta'mal. Seperti mencuci muka yang bukan dalam rangkaian ibadah ritual wudhu`. Atau mencuci tangan yang juga tidak ada kaitan dengan ritual ibadah wudhu`.

Dan selama air itu sedang digunakan untuk berwudhu` atau mandi, maka belum dikatakan musta'mal. Hukum musta'mal baru jatuh bila seseorang sudah selesai menggunakan air itu untuk wudhu` atau mandi, lalu melakukan pekerjaan lainnya dan datang lagi untuk wudhu` atau mandi lagi dengan air yang sama. Barulah saat itu dikatakan bahwa air itu musta'mal.

Mazhab ini juga mengatakan bahwa bila ada sedikit tetesan air musta'mal yang jatuh ke dalam air yang jumlahnya kurang dari 2 c, maka tidak mengakibatkan air itu menjadi `tertular` ke-musta'mal-annya.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Ahmad Sarwat, Lc
Rumah Fiqih Indonesia
Share this Article on :

0 komentar:

Poskan Komentar

 

© Copyright Tarqiyah.com - Menguatkan Hati dan Pikiran 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com.