Hadiah Terindah

Dakwah bukanlah jalan yang mudah. Bukanlah sekadar kewajiban, namun juga pilihan. Beruntunglah bagi mereka yang memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Akan tetapi, jalan dakwah yang ia pilih bukan hanya semata karena keinginannya. Melainkan adanya hidayah yang Allah anugrahkan padanya. Dan kesadaran akan hal itulah yang membuat ia yakin hidup akan senantiasa dalam bimbinganNya.

Betapa berharganya hidayah yang telah Allah hadirkan dalam relung hati mereka. Orang-orang beriman yang memilih dakwah sebagai jalan hidupnya. Mereka relakan harta bahkan jiwa demi agama Allah yang haq. Dan sungguh apapun bentuk perjuangan dan pengorbanan di jalan ini, tiada yang sia-sia. Peluh keringat, tetes air mata bahkan derasnya darah yang tertumpah. Akan menjadi saksi perjuangan mulia mereka.

Rahimallahu wa rahimallaha wa rahimallahu'alaik.. Ikhwah fillah.. Betapa berharganya keimanan dan hidayah yang telah Allah anugrahkan pada orang-orang beriman, orang-orang pilihan. Banyak dari kalangan orang terdahulu yang termasuk ke dalam golongan yang Allah pilih menerima hidayah. Dan hidayah yang Allah berikan pun memerlukan perjuangan. Tidak serta-merta hadir dalam hati dan berimplikasi di kehidupan sehari-hari.

Mari kita buka lembaran catatan sejarah para pendahulu kita, yang telah lebih dahulu menggoreskan tinta perjuangan demi tegaknya dienul Islam yang mulia. Sebut saja Mush'ab ibn Umair. Bagaimana beliau rela meninggalkan tahtanya di kerajaan untuk berjuang bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya. Bahkan beliau harus bersitegang dengan ibu yang sangat ia cinta. Ia sangat menyadari sang ibu pun amat mencintainya. Akan tetapi, sang ibu melarang bahkan mengusir Mush'ab karena ia lebih memilih Islam, sedangkan sang ibu seorang kafir. Mush'ab dianggap bukan lagi anak dari sang ibu. Renungkan wahai saudaraku, ibu yang sangat dicintainya mengusirnya, menganggap ia bukan lagi anaknya. Akan tetapi, kecintaannya kepada Islam membuatnya tak lantas menyerah. Ia tetap melanjutkan langkahnya bersama Islam.

Saudaraku, di antara kita mungkin adakah yang mengalami peristiwa seperti yang dialami Mush'ab ibn Umair??? Jika ada, beruntunglah jika mengikuti jejak langkahnya yang tetap teguh berjuang. Jika tidak ada, lalu apa bentuk perjuangan yang kita lakukan sebagai bentuk kecintaan pada agama yang mulia ini? Pada Allah dan RasulNya???
Perjuangan yang dilakukan, jadikan sarana mendekatkan diri pada Allah. Sebagai bentuk kesyukuran atas anugrah hidayah ini. Maka jangan tanyakan 'apa yang Allah berikan padaku?' Karena sangatlah banyak wahai saudaraku..tak terhitung, tak ternilai. Akan tetapi, tanyakanlah pada hati-hati kita.. 'apa yang telah kita berikan untuk Allah? Hartakah? Jiwakah?', jawabannya ada di tiap hati-hati kita.


Wallahu'alam.




Mardhiyah Sholihah

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »