"Ana Khoiru Minkum" Nenek Moyang Kekufuran


“ Dan (ingatlah) ketika kami berfirman kepada malaikat: “sujudlah kamu kepada adam” maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takaur dan adalah ia termasuk golongan yang kafir” (Al Baqarah : 34)

Mengapa iblis tak mau bersujud pada Adam, yang secara hakiki dimaksudkan adalah perintah Allah itu?. Jelas karena dia menganggap dirinya jauh lebih baik daripada Adam. Dan inilah nenek moyang dari segala kufur. Maka kita dapat pastikan bahwa mengganggap diri lebih baik itu adalah sangat dekat dengan kufur. Inilah yang sering kali hinggap di hati kita, tak terlebih lagi mereka yang mengaku aktivis islam, pencari ilmu Allah, penegak dienullah, atau apalah mereka menyebut dirinya.
Apa yang dihasilkan dari sifat “ana khoiru minkum” , tak banyak kecuali kematian hati, tumpulnya akal, dan hilangnya cahaya keimanan. Ini adalah realita yang ada di zaman ini. Si fikroh ini menganggap bahwa majelis anu itu salah, yang ini sesat, yang ini keliru. Padahal jelas apa yang mereka pahami tak keluar dari akidah islam.

Ikhwati, islam itu tinggi bukan karena kita, mereka, atau diri ini yang menjadikannya tinggi. Tapi Allah yang menjadikannya mulia sebagaimana adanya. Kita sering terjerembab pada debat kusir tentang perbedaan pendapat dalam hal fiqih, terhadap pengambilan hukum. Sepertinya kita musti bijak dalam berislam.
Maka seorang da’i tak boleh sama sekali menjustifikasi si anu salah si ini salah meskipun bukan berada dalam barisan jamaah dakwahnya,apapun itu barisan jamaah dakwahnya. Sifat merasa lebih baik, merasa lebih berilmu itu menghadirkan banyak bala, menghambat datangya rahmat. Kita saksikan dalam panggung sejarah, mereka yang merasa lebih baik dibanding yang lain seperti layaknya khwarij, syiah juga misalkan. Kita tahu bagaimana kerusakan yang dihasilkan terhadap umat ini dari akibat mereka merasa golongan yang benar.

Ya mungkin kita tidak sampai mengkafirkan, namun perasaan kita yang merasa lebih baik dari golongan lain dan mereka adalah golongan yang salah, adalah bukan manhaj kaum muslimin. Perhatikan bagimana bijaknya para imam mazhab dalam memahami islam, mereka punya pendekatan masing-masing terhadap suatu hukum. Tak tak pernah ada sejarah yang sampai pada kita imam mazhab pernah berkelahi dan saling membenci.

Hanya kita saja yang lemah iman, tak punya ilmu membanggakan diri dengan secuil pengetahuan lalu memproklamirkan diri bahwa saya benar dia yang salah.

Buya Hamka yang Muhamadiyah dan Kiyai Idham Cholid yang NU pernah ada dalam satu kapal yang membawa rombongan haji. Mereka membawa jamaah masing-masing. Mereka bergiliran menjadi imam subuh, dikala Buya Hamka menjadi imam dia mengatakan “saya tidak pakai qunut, tapi pada i’tidal rakaat kedua saya akan lamakan,silahkan anda berdoa”. Begitu pula sebaliknya ketika kiyai Idham Cholid menjadi imam subuh dia mengatakan “saya pakai qunut, silahkan yang lain tidak usah ikut ucapkan amin”. Indah betul bukan?

Sebab mereka yang hanya tunduk pada Allah semata, akan ditunjuki ilmu yang membuat mereka semakin tunduk padaNya dan tak merasa sama sekali ada kuasa mereka atas kebenaran itu.

Nah, kita sekarang yang menjadi seolah lebih pintar dari mereka. Hanya aktivis dakwah sebatas kuku saja sudah merasa lebih baik dari yang lain. Hingga hati kita tertutup akan ilmu, akan pengetahuan, akan cahaya. Hadirnya islam itu membebaskan diri dari penjara yang membelenggu pikiran. Kita merasa “ana khoiru minkum” secara rapat hati kita akan tertutup dari kebaikan.

Datanglah di kajian islam majelis anu, pengajian itu, kajian ini, selama tak bergelimang maksiat dan kesia-sian itu jauh lebih baik. Dan jauh lebih memahamkan kita tentang islam. Bukan menjadi katak dalam tempurung, yang menganggap jika kawan kita , saudara kita itu masuk kedalam barisan yang lain dia sudah salah. Selama dia masih dalam lingkungan amal sholeh, berada dalam aqidah yang benar tak ada sama sekali yang menjadi alasan kita menjauhi mereka atau menganggap mereka keluar dari agama. Karena banyak problematika umat yang harus diselesaikan dalam konteks umat kekinian. Tentu ini menuntut kepandaian dan strategi dalam berdakwah, karena setiap masa dan tempat akan beda problematikanya. Ada yang lebih penting dari sekedar membusungkan dada seraya berkata “ana khoiru minkum” sementara umat ini terlantar. Biarlah sedikit kita perbaiki daripada terburu-buru namun menghasilkan suatu hal yang tidak baik. Bukankah dakwah ini awalnya dibangun dengan kesabaran bukan terburu-buru. Maka sekali lagi bahwa umat kekinian membutuhkan perhatian intensif dan kerja nyata. Hentikan hujatan, hentikan ejekkan, bepeganglah pada tali agama Allah semata.

Semoga Allah pahamkan pada kita imuNya yang luas, Allah tundukan hati kita juga akannya. Hingga kita hanya bertumpu pada apa yang Allah dan RasulNya bawa bukan pada kerasnya hati. “Barangsiapa yang diinginkan oleh Alloh kebaikan pada dirinya, maka dia akan  dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Wallahu a'lam bishowab


Oleh : Kurnia P. Wijaya ( @KurniaPWijaya )


Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »