Belajar Tekad dari Pembunuh Abu Jahal


Seorang pemuda Anshar bernama Muadz bin Amr bin Al Jamuh, usianya masih 14 tahun ketika ia mendengar bahwa Rasulullah dan para sahabatnya akan menuju medan Badar untuk menyongsong kafilah Abu Sufyan.

Dengan usia keislaman dan usia biologis yang masih sangat belia tentu saja dia belumlah pantas untuk ikut berperang. Terlebih lagi dalam perang Badar pasukan Islam masih dalam posisi yang lemah. Namun ternyata Rasulullah mengijinkan anak muda ini untuk ikut bersama pasukannya.

Ternyata Muadz memiliki misi khusus dalam peperangan ini, yaitu membunuh Abu Jahal. Muadz belum pernah sama sekali bertemu dengan Abu Jahal, maka ia bertanya kepada Abdurahman bin Auf perihal Abu Jahal. Kemudian Abdurahman bin Auf bertanya pada Muadz, “Wahai anak saudaraku, apa yang hendak kamu lakukan terhadapnya?”. Maka dia menjawab, “Saya mendapat berita bahwa ia adalah orang yang pernah mencaci maki Rasulullah saw. Demi Allah yang jiwa saya dalam genggaman-Nya! Jika saya melihatnya, pupil mata saya tidak akan berkedip memandang matanya hingga salah seorang di antara kami terlebih dahulu tewas.”

Tak lama kemudian Abdurahman bin Auf melihat Abu Jahal dan menunjukkan kepada Muadz. Abu Jahal bukanlah orang sembarangan, dia adalah panglima tertinggi pada saat itu. Tentu pengawalan terhadapnya amat ketat dan berlapis. Hingga orang-orang musyrik mengatakan tidak ada seorangpun yang dapat menyentuh Abu Jahal.

Disinilah kekuatan tekad seorang Muadz bin Amr bin Aljamuh kembali menyeruak. Ia semakin bersemangat. Akhirnya ia berhasil mendekati Abu Jahal dan berhadapan langsung dengannya. Muadz hanya fokus pada Abu Jahal sehingga ketika ia menemukannya ia langsung menyerangnya hingga menyebabkan setengah kaki Abu Jahal terputus. Namun anak dari Abu Jahal, Ikrimah  bin Abu Jahal berhasil menyabetkan pedangnya kebahu Muadz hingga tangannya terpotong dan menggantung di kulitnya.

Apakah dengan demikian pupus sudah tekad Muadz? Mari simakapa yang dikatakannya,“Keadaan itu sempat menyulitkanku untuk menyerang, tetapi aku tetap menghabiskan hari tersebut untuk menyerang sambil meletakkan tangan yang terpotongitu di belakangku. Ketika aku merasa kesakitan, aku pun meletakkan kaki di atastangan yang terpotongitu, kemudian aku tarik hingga akhirnya terlepas dan membuangnya.”
Akhirnya pertarungan itu berakhir dengan terbunuhnya Abu Jahal. Lalu Muadz menemui Rasulullah dan kemudian beliau bersabda, “ Kalian telah membunuhnya“, (HR. Bukhari dan Muslim)

Inilah kekuatan tekad yang menjadikan seseorang mampu bertindak diluar batas kemampuannya sendiri. Peran tekad inilah yang membuat seseorang diangkat derajatnya oleh Allah. Maka dalam skala kolektif Allah berfirman,” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka.” (QS, Ar ra’d : 11)

Tentu saja kesadaran tekad secara kolektif ini bermula dari kesadaran tekad secara personal. Jika seorang Mu’adz tak merasakan bahwa tangannya nyaris putus hingga ia sengaja memutuskannya agar mempermudah ia meraih tekadnya. Maka begitu lah tekad yang kuat akan menghilangkan semua rasa yang menggangu tercapainya misi tersebut. Hingga rasa sakit itu terlupakan dengan manisnya mimpi yang menjadi kenyataan.
Oleh karena itu kesadaran tekad yang kuat inilah yang harus dibangun dalam diri setiap muslim. Inilah budaya yang telah dibangun dalam islam hingga kemudian Islam mampu menguasai peradaban dunia.



Oleh : Kurnia P. Wijaya 
www.twitter.com/KurniaPWijaya

..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »