Ikhwan Subhat, Akhwat Subhan

"dan Kami jadikan kamu berpasang-pasangan” (QS : Annaba : 8)

Ayat ini menjadi petunjuk jelas bahwa kita manusia diciptakan olehNya berpasang – pasangan. Oleh karena itu secara naluriah dan alamiah sekali kalau kita memiliki kecenderungan untuk mencari pasangan. Siapa sih yang mau hidup sendirian sepanjang usianya?

Maka wajar dan memang teramat fitrah jika kita mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis, begitu pula para aktivis dakwah. Karena ini adalah sifat dasar manusia pasti semua memiliki keiinginan yang sama dan tujuan yang sama.

Aktivis dakwah juga manusia yang hidup selayaknya manusia pada umumnya. Hanya saja mereka memilih pilihan hidup lain dibanding orang kebanyakan.

Hari ini ditengah hamparan lahan dakwah yang luas, rintangannya pun semakin beragam, hal – hal yang melalaikannya juga pasti makin banyak. Kecenderungan naluriah tadi justru akan melahirkan keburukan jika kita tak mampu membentengi diri kita dengan iman. Termasuk juga aktivis dakwah, ya namanya juga manusia. Naluri alami itu pasti disertai dengan godaan tinggal bagaimana kita memilih “faalhamaha fujuroha wa taqwaha”.

Dimasjid – masjid kampus yang biasanya ramai dengan aktivitas para aktivis dakwahnya yang mendiskusikan problematika ummat kini mulai agak bergeser. Yang didiskusikan sekarang adalah si ukhti yang anak fakultas itu, yang sekarang menjadi ketua keputrian fakultas. Atau para ikhwan yang dengan terbiasanya saling meledek “ akh itu tuh ada si ukhti anu tuh..”. Ada juga yang sering mencandai temannya “ciee yang abis kordinasi sama ukhti itu.. “. Atau yang sering membicarakan tentang pernikahan, ya, hanya sekedar membiracakannya. Dan lain-lain, tak ada habisnya.

Setiap forum hanya diisi dengan obrolan sejenis itu hanya berbeda latar saja. Fenomena subhat (suka bicarain akhwat) dikalangan ikhwan sering dianggap biasa saja. Ya, jika hanya candaan sesekali boleh jadi itu melepas penat. Tapi jika itu menjadi ocehan setiap hari? bisa – bisa merusak niat pelakunya,, waspadalah, waspadalah. (loh!)

Tak berarti dikalangan akhwat terbebas dari subhan (suka bicarain ikhwan). Biasanya akhwat ini juga suka kumpul – kumpul, ada juga yang ber – geng (tapi bukan geng motor ya). Nah inilah momen yang biasanya pembicaraan tak melulu tentang dakwah, diselingi dengan obrolan ringan, tentang kuliah, tentang kehidupan sehari – hari, tentang film, tentang musik, dan tentang ikhwan. Dalam diskusi yang dalam bahasa yang lebih egaliter disebut dengan ngerumpi itu, sering terjadi obrolan subhan. Banyak akhwat yang terpana dengan si ikhwan itu karena ganteng, ada juga yang seneng sama si ikhwan yang satu lagi karena tinggi, adalagi yang simpatik sama ikhwan yang disana karena hafalannya banyak, ada juga yang suka sama ikhwan yang gak ganteng, gak tinggi, hafalannya gak banyak.

Subhat dan subhan memang terasa ringan dilisan, kita menganggap itu hal biasa. Tapi sadarkah jika itu dapat membuat hati kita keruh, kurangnya amal. Ini juga penyebab para aktivis dakwah galau tidak jelas, hingga mis orientasi dalam dakwahnya. Allah mengingatkan kita bahwa muslim yang baik itu adalah yang meninggalkan hal yang sia-sia dan tak bermanfaat. dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna,” (QS Al Mu’minuun : 3).

Si ikhwan akan mulai memperhatikan si akhwat, si akhwat akan mulai curi – curi pandang sama si ikhwan. Dan begitu seterusnya hingga bangunan dakwah yang telah dibangun itu perlahan mulai rapuh dan akhirnya roboh. Lalu kita mulai sibuk mencari – cari apa penyebabnya yang justru hadir dari kebiasaan – kebiasaan kita membicarakan hal yang melalaikan dan melemahkan. Memang sulit terlebih jika kita sudah berkumpul bersama, pasti obolan akan mencair tapi paling tidak kita harus mengurangi hal yang demikian.

Dengan mimbar dakwah yang luas seperti saat ini, dimana interaksi antara ikhwan dan akhwat dapat sangat terbuka. Lebih sulit menjaga hati agar tetap jernih dan niat tetap lurus. Tidak seperti dahulu yang sangat berketat – ketat dalam urusan interaksi lawan jenis. Bukan berarti kita harus menyesali masa ini, justru banyak kemajuan yang telah dicapai oleh sebab mereka yang dahulu berketat – ketat itu. Dan kita harus menjaga masa ini agar tak mundur kebelakang karena kita berlemah – lemah terhadap kelalaian.

Maka kita harus senantiasa mencelupkan diri ini dalam aktivitas – aktivitas tarbawiyah, pembinaan. Karena aktivitas dakwah itu adalah penampakan dari dinamika ruh yang bergejolak dalam diri setiap penyerunya. Jika kita hanya menumpukan pemahaman dan kejernihan ruh hanya dalam aktivitas – aktivitas dakwah tanpa kita memperhatikan aktivitas tarbawiyah maka yang hadir hanya kegersangan aktivitas tanpa orientasi rabbani.

Semoga kita dijaga oleh Allah dari sifat – sifat yang melalaikan.

Wallahu a’lam bishowab
Barakallahufikum

 

Abu Niyazi



.:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »