Kita Adalah Murabbi


“Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?" Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: "Kami lah penolong-penolong agama Allah", lalu segolongan dari Bani Israel beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.” (QS. Ash-Shaf: 14)


Seorang peserta tarbiyah menyesali diri, “Saya ikut tarbiyah sudah bertahun-tahun akan tetapi saya tidak dapat berbuat banyak untuk menyebarluaskan dawkah dan tarbiyah seperti harapan Murobbi saya. Kemampuan saja sangat terbatas. Saya belum berani untuk menyampaikan apa yang telah saya dapatkan di pengajian. Saya malu pada diri sendiri apalagi pada Murobbi.

Di tempat terpisah, “Binaan saya kok belum ada kemajuan ya, padahal saya telah membina mereka tertahun-tahun,” keluh seorang Murobbi ketika mengikuti daurah murabbi. “Saya ingin mereka cepat berinteraksi dengan materi yang saya sampaikan dan menyebarluaskannya sehingga dakwah ini tumbuh dengan pesat,” sang Murobbi menjelaskan harapan dirinya terhadap Mutarobbi yang dibinanya.

Di lain kesempatan salah seorang jama’ah masjid mengutarakan keinginannya kepada seorang ustadz yang telah memaparkan panjang lebar tentang ajaran Islam di majelis pengajian yang baru diikutinya, “Ustadz, saya sangat tertarik dengan tema yang tadi disampaikan. Rasanya, materi yang ustadz jelaskan tadi belum selesai. Bagaimana bila materi itu dilanjutkan saja pada pertemuan yang akan datang?” “Kalau begitu lebih baik saudara mengaji secara rutin dan terarah di majelis pengajian yang saya kelola,” ajak sang ustadz. “Boleh, kami siap mengikutinya ustadz, bila diperkenankian,” jawab jama’ah tersebut. “Dengan senang hati, akan tetapi saudaraku mesti komitmen dan konsisten untuk mengikutinya,” jelas ustadz.
Pembicaraan di atas sering terungkap di berbagai kesempatan. Tampak sangat kontras bila disandingkan. Tidak sedikit orang yang tertarik untuk mengikuti kajian Islam secara rutin dan terarah (halaqah). Mereka berharap mendapatkan pembinaan diri secara intensif agar dapat memahami dan menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Itulah berkah dakwah yang Allah SWT amanahkan kepada kader ini.

Saat ini banyak kita jumpai berkah dakwah yang diberikan Allah SWT. Di antaranya berupa ketertarikan sejumlah orang pada dakwah yang mereka dengar dari mulut para kader. Akan tetapi jumlah orang yang mampu membina mereka dapat dikatakan masih belum memadai. Bahkan seperti terungkap di atas masih saja ditemukan kader dakwah yang telah lama mendapatkan pembinaan namun belum percaya diri untuk membina kader baru dengan berbagai macam alasan.

Sebagaimana kita pahami, tarbiyah atau pembinaan diri merupakan bagian yang sangat urgen dalam dakwah. Melalui tarbiyah, seorang kader dibina untuk memahami ajaran Islam secara utuh dan menyeluruh. Selanjutnya, diarahkan agar mampu berinteraksi dengan muatan materi yang telah diterima. Dengan begitu nilai-nilai Islam tidak hanya sebatas dipahami melainkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian ditempat untuk ikut terlibat aktif dalam penyebarluasan dakwah Islam kepada khalayak sehingga dakwah tumbuh dan berkembang.

Amal dakwah dipandang produktif bila berhasil melahirkan kader-kader yang menjadi barisan pemegang estafeta dakwah. munculnya para penerus dakwah yang ikut terlibat aktif dalam mengemban amanah-amanah dakwah ini menjadi salah satu kunci kesuksesan penyebarluasannya. Peran penerus dakwah dalam mengemban amanah ini memang tidak hanya sebatas penyebarluasannya saja melainkan juga meningkatkan mutu interaksi dakwah terhadap ajaran Islam.

Peran sebagai da’i serta Murobbi ini dipahami benar oleh para pendahulu dakwah di masa lalu. Mereka mempunyai rasa tanggung jawab yang besar terhadap eksistensi dakwah. Ada rasa penyesalan yang dalam bila mereka tidak dapat menunaikannya dengan baik. Pantaslah bila perjalanan dakwah pada masa Rasulullah SAW dan para sahabatnya menunjukkan perkembangan yang luar biasa pesat, baik dari aspek penyebarannya maupun peningkatan mutu kualitasnya.

Hal ini terbukti dari dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ibnu Yaman RA. Dia menginformasikan beliau data-data yang terukur tentang siapa yang telah masuk Islam, keluarga mana saja dan dari kabilah mana. Dari informasi tersebut dalam dipahami bahwa amal dakwah mengalami perkembangan yang pesat waktu itu.

Tulang punggung keberhasilan dakwah dalam mencapai sasaran tersebut adalah para murobbi. Mereka memberikan arahan dan pembinaan yang berkesinambungan sehingga melahirkan kader dakwah baru yang ikut terlibat aktif dalam amal dakwah. besarnya peran dan tanggungjawab murobbi pada dakwah sering kali menjadi momok bagi para kader. Kondisi ini yang menyebabkan mereka gamang untuk membina orang lain. Apalagi bila menilik kemampuan dan kondisi dirinya yang dirasanya belum memadai.

Sebenarnya asumsi semacam ini kurang tepat, sebab banyak murobbi di awal kontribusinya dalam dakwah memiliki kemampuan yang sama seperti yang dimiliki kebanyakan kader. Namun mereka memiliki dorongan yang kuat untuk terjun dalam dakwah ini. Apalagi mengingat doktrin dakwah yang berbunyi: Inna al-akh ash-shadiq laa budda an yakuna murabbiyan (seorang al-akh sejati tidak boleh tidak harus menjadi murobbi)

Agar bisa menghilangkan momok yang selama ini menjadi penghambat produktivitas dakwah, seorang kader harus memerhatikan bekalan-bekalannya. Bekalan itu bukanlah sekadar setumpuk catatan materi melainkan serangkaian hal-hal berikut:

Dawafi’ al-Imany (Motivasi Imaniyah)

Mengukur untung ruginya sebelum melakukan suatu aktivitas merupakan opini umum banyak orang. Semakin besar keuntungan yang bakal diperoleh semakin besar pula dorongan seseorang untuk melakukannya. Sebaliknya bila keuntungan kecil atau bahkan kerugian yang bakal didapatkan, maka dia akan berpikir beberapa kali untuk melaksanakannya.

Penyebarluasan dakwah, dalam hal ini menjadi Murobbi termasuk salah satu dari aktivitas ubudiyah. Segala kegiatan yang bersifat ubudiyah keuntungan materinya sering kali tidak kontan. Bahkan gambaran kerugian secara material acak kali mengiringi amal tersebut. Rugi waktu, kesempatan, harta, dan lain-lainnya, begitu yang ada dalam benak kebanyakan orang. Hal ini tidak jarang menyebabkan orang enggan untuk melibatkan dirinya secara utuh. Hanya orang yang mempunyai keimanan kuat yang mampu menunaikannya. Sebab itu Imam Nawawi rahimahullah menempatkan hadits keikhlasan sebagai hadits pertama dalam kibatnya lantaran keimanan dan keikhlasan merupakan pendorong atau sumber motivasi terbesar.

Kekuatan iman menjadi daya dorong yang besar dalam melakukan aktivitas ubudiyah. Oleh karena itu menjadi kewajiban para kader dakwah untuk menambah bekal keimanan. Agar amal dakwah yang besar dapat ditunaikan dengan keringanan hati. Sehingga Allah SWT akan memudahkan dirinya dalam mentarbiyah orang lain. Bahkan memberinya pengetahuan untuk menopang amal tarbiyah yang ia lakukan.

“Dan bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarkanmu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 282)

At-Tafaul (Optimisme)

Optimisme sebagian dari kesuksesan, bahkan kemenangan. Dengan optimisme, seorang da’i atau akder dakwah dapat membangun harapan besarnya. Ia menjadi penyejuk hati ketika mendapatkan rintangan. Dalam dakwah optimisme ini dapat merajut bangunan harapan dan dambaan, karenanya ia tidak boleh menipis apalagi habis. Lihatlah Rasulullah SAW dalam menyampaikan dakwahnya. Beliau sangat optimis meski harus berhadapan dengan berbagai cobaan dan rintangan.

Taktala Rasulullah SAW pergi ke Thaif, beliau mendapatkan intimidasi dan cemoohan masyarakat di sana. Perlakuan mereka kepada Nabi Utusan Allah sampai membuat geram Malaikat penjaga gunung Thaif. Akan tetapi beliau masih memiliki harapan besar pada mereka. Sebagaimana ucapan beliau ketika itu, “Bila saat ini mereka tidak menerima seruanku, aku berharap keturunan mereka akan menyambut dakwahku.” Nyatanya, sepuluh tahun sesudah kejadian itu berbondong-bondonglah mereka menjumpai Rasulullah SAW untuk menjadi pengikutnya.

Bahkan di zaman Khalifah Abu Bakar, ketika banyak orang membangkang tidak mau membayar zakat, justru penduduk Thaif yang paling awal membayar zakat. Demikianlah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk selalu optimis dalam menyebarluaskan dakwah dan mentarbiyah, meski menghadapi tantangan. Banyak rintangan dan cobaan yang akan ditemui dalam membina manusia ke jalan Allah SWT, karenanya persediaan optimisme harus selalu dalam keadaan surplus.

“Dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

At-Tsiqah bil Qudratidz Dzatiyah (Percaya terhadap Kemampuan Diri)

Kemampuan yang belum memadai tidak boleh menjadi kendala besar untuk menjadi murobbi. Kemampuan akan menjadi memadai bila seiring terasah. Kemampuan dalam menyebarluaskan dakwah akan terasah melalui keberanian untuk menyampaikan apa saja yang telah didapatkannya. Meskipun awalnya tema-tema yang sederhana dulu, tetapi semakin sering ia menyampaikan dakwah maka kemampuannya akan semakin berkembang sebagai murabbi.

Apabila kita melihat perjalanan dakwah para sahabat, awalnya mereka tidak memiliki kadar kemampuan yang memadai. Namun dengan rasa tanggungjawab mereka menyebarluaskan dakwah. jiwa mas’uliyah membuat mereka memiliki kemampuan besar untuk membina manusia yang selanjutnya terlibat aktif dalam amal dakwah. Walaupun mereka jauh dari komunitas kaum muslimin lantaran mereka menjadi duta Rasulullah ke berbagai wilayah. Di antaranya sahabat Mu’adz bin Jabal RA yang dikirim ke Yaman.

Ketika Mu’adz bin Jabal akan dikirim ke Yaman, ia mengharapkan Rasulullah SAW memberikan banyak bekalan, semacam tentir materi-materi dakwah. Ternyata beliau hanya memberikan 3 bekalan. Pertama, meningkatkan komitmen moral. Kedua, pembersihan diri. Ketiga, interaksi sosial. Sebagaimana sabdanya pada Mu’adz, “Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan menghapusnya dan berbuat baiklah pada manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim). Lalu apakah bekalan itu kurang buat dirinya? Jawabnya tidak, buktinya dakwah yang dilakukannya berkembang di sana.

Permasalahannya di sini adalah kepercayaan pada kemampuan diri. Sebenarnya setiap manusia akan semakin tajam kemampuannya bila sering dipergunakan, termasuk juga kemampuan menjadi murobbi. Oleh sebab itu kader-kader dakwah harus memperbaiki sekaligus meningkatkan kepercayaan dirinya terhadap kemampuannya sebagai murobbi.

Al-Ibrah wa Ta’birul Akhorin (Mengambil Pelajaran dan Pengalaman Orang Lain)

Pengalaman merupakan guru yang terbaik. Ungkapan ini berlaku untuk semua permasalahan tak terkecuali dalam mentarbiyah manusia. Pengalaman yang baik menjadi contoh sedangkan pengalaman buruk menjadi pelajaran yang berharga.

Untuk mendapatkan pengalaman banyak jalan yang bisa dilakukan. Di antaranya terjun langsung ke lapangan. Di sana berbagai pernah pernik tarbiyah akan mudah kita temukan. Dapat juga dengan cara ikut magang di halaqah orang lain untuk melihat dinamika tarbiyahnya dengan berbagai problema yang muncul dan upaya-upaya mencari solusinya. Atau berdiskusi dengan orang lain tentang pengalamannya dalam mentarbiyah orang, sehingga menjadi bekal dakwah yang tak ternilai harganya. Perbanyaklah mengambil pelajaran dan pengalaman dari orang lain, begitu kata orang bijak.

Do’a

Kedudukan do’a bagi seorang mukmin sangat berarti. Ia menjadi senjata baginya. Do’a menjadi penawar hati dan penyejuk jiwa. Dalam mentarbiyah, peranan do’a tidak boleh diabaikan. Baik sebelum maupun sesudah menunaikannnya. Ia akan menjadi penghantar hidayah Allah SWT. Nabi Musa AS telah mencontohkannya pada kita sekalian. Tatkala akan mendakwahkan Fir’aun, beliau memunajatkan do’a pada Allah SWT:

“Berkata Musa: ‘Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku.’” (QS. Thaahaa: 25-28)

Sebab itu, sebelum maupun sesudah menyampaikan muatan tarbiyah hendaknya kita tidak lupa berdo’a. Dengan berdo’a semoga Allah SWT memudahkan kita untuk menyebarluaskan dakwah yang akan menghantarkan hidayah-Nya pada orang lain. Aamiin.

Kesuksesan Murobbi dalam Tarbiyah

Meraih kesuksesan dalam tarbiyah bukanlah hal yang mudah. Banyak kendala yang akan menghadang setiap saat. Akan tetapi sorang Murobbi tidak boleh berkecil hati menghadapinya.

Tarbiyah dapat dinilai sukses bila melahirkan kader-kader baru yang ikut serta dalam barisan dakwah. Ini menjadi penyebab yang menyenangkan Murobbi juga penyebab kebencian musuh-musuh dakwah.

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)

Untuk mencapai kesuksesan dalam mentarbiyah, salah seorang pendahulu dakwah, yakni Hasan al-Banna memberikan catatannya tentang pilar-pilar kesuksesan tarbiyah, yakni:

1. Quwwatul Iradah (Kemauan yang Kuat)

Murobbi mesti memperkuat kemauannya dalam mentarbiyah. Kemauan yang kuat akan menajdi kendaraan handal dalam mengelola tarbiyah. Ia tidak lekang karena panas, tidak pula lapuk karena hujan. Ia juga menjadi motivasi bagi mutarbobbinya.

Seorang Mutarobbi pernah memaparkan kekagumannya pada murabbinya. Lantaran sang Murobbi senantiasa hadir bersamanya meski harus berjalan kaki, dalam keadaan hujan, sakit, apalagi hal-hal ringan. Kalaupun terpaksa tidak dapat hadir, ia sempatkan untuk berbicara dengan mutarobbinya melalui telepon saat pertemuan berlangsung ataupun sesudahnya. “Subhanallah Ustadz, saya tadi terdorong selalu hadir dalam pertemuan, saya akan malu kalau tidak hadir. Apalagi hanya karena masalah kecil.” Tampaknya kemauan yang kuat menjadi faktor yang ikut memengaruhi unsur lainnya.

2. al-Qudwah (Keteladanan)

Aktivitas spiritual merupakan aktivitas yang mengedepankan keteladanan. Keteladanan menjadi cermin jernih pada amal spiritual. Murobbi menempati posisi penting dalam keteladanan amaliyah ini. sebagai mercusuar untuk membimbing ke arah mana jalan yang harus dilalui. Sehingga bahtera itu mendapatkan rute perjalananya menuju taman harapan. teladan dalam ruhiyah, fikriyah, ijtima’iyah, tadhiyah, amaliyah, dan yang lainnya.

Rasulullah SAW bersabda, “Seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya.” (HR. Tirmidzi)
Selayaknya seorang Murobbi terdepan dalam mengimplementasikan nilai-nilai yang telah disampaikannya. Sehingga ia menjadi mesin penarik jiwa-jiwa manusia.

3. Isti’dadu Baramiji al-Muwajjahah (Mempersiapkan Agenda Pertemuan)

Imam Hasan al-Banna membuat catatan kecil pada secarik kertas. Murid-muridnya bertanya, “Untuk apa catatan itu wahai imam?” “Saya sedang mempersiapkan materi pertemuan nanti,” jawab sang Imam.

Untuk meraih keberhasilan tarbiyah seorang Murobbi perlu mempersiapkan agenda liqa’ tarbawiyahnya. Diawali dengan memersiapkan diri untuk pertemuan tersebut. Baik aspek psikologis, fisik, intelektual, maupun material. Demikian pula agenda pertemuan, agar liqa’ tarbawiyahnya menjadi pertemuan yang bermakna. Bukan pada lamanya waktu pertemuan melainkan pada isi pertemuan tersebut.

4. Matanah as-Syakhshiyah (Soliditas Personal)

Soliditas personal baik vertikal maupun horizontal merupakan faktor yang ikut memengaruhi dinamika kelompok. Demikian pula komunitas dan soliditas tarbiyah. Soliditas vertikal dalam artian menjaga hubungan yang baik antara Murobbi dengan Mutarobbi atau sebaliknya. Sedangkan soliditas horizontal adalah menjaga hubungan antara sesama Mutarobbi. Terkadang masalah kecil dan sepele dapat merusak soliditas kelompok. Akhirnya hancurlah dinamika kelompoknya yang berlanjut dengan bubarnya kelompok tersebut.

Apabila kita cermati persoalannya terletak pada kemampuan masing-masing personal memelihara kesehatan hatinya. Itu menjadi inti permasalahannya. Apabila setiap personal tidak berupaya menjaga kualitas hatinya maka hal itu akan dapat memporakporandakan kekokohan barisan manusia yang telah dibangun.

Murobbi dalam hal ini memegang peranan penting. Bila ada gesekan antara dirinya dengan Mutarobbi hendaknya mampu berlaku arif dan bijak mencairkan hubungan yang kaku sebagai akibat dari gesekan tersebut. Jika yang terjadi pada sesama Mutarobbi dapat menjembatani antara mereka dengan sikapnya menjadi penengah tidak berpihak pada satu sisi. Dengan perilaku Murobbi yang seperti itu soliditas kelompok akan terpelihara dunia dan akhirat.

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menajdi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf: 67)

5. Taujih wa Muraqabah al-Murabbi (Arahan dan Kontroling Murabbi)

Di antara baramij tarbiyah yang ditunggu-tunggu Mutarobbi adalah taujih Murobbi yang akan mengarahkan mereka. Taujih tersebut menjadi curahan kesejukan hati. Terlebih lagi bila muatan yang disampaikannya aktual dan tepat. Mereka hadir dalam pertemuan tersebut memang dengan harapan mendapatkan arahan Murobbi.

Interaksi Mutarobbi dengan kehidupannya sehari-hari dapat menimbulkan karat dan noda yang perlu dibersihkan. Pertemuan tarbiyah, mereka jadikan sebagai sarana untuk menetralisir sekaligus meningkatkan imunitas dirinya. Mereka sangat senang mendapatkan arahan tersebut.

Seorang Mutarobbi pernah mengutarakan keinginannya untuk pindah halaqah, karena pertemuan tarbiyah dirasakannya hambar tanpa makna. “Murabbi saya super sibuk, jarang hadir. Kalaupun hadri hanya sekadar tatap muka saja. Padahal kami berharap mendapatkan sepatah atau dua patah kata sebagai penyejuk hati kami.” keluhnya.

Ungkapan tersebut sebenarnya bukanlah gugatan. Akan tetapi lebih kepada harapan dan keinginan mereka mendapatkan nasihat penyejuk iman dari Murobbi. Para sahabat, bila hadir dalam majelis Rasulullah SAW mendapatkan solusi dari problematika yang mereka miliki. baik problem internal, rumah tangga masyarakat atau persoalan lainnya. Taujih Rasulullah SAW menjadi jawabannya.

Di samping taujih, kontroling Murobbi juga tidak kalah penting untuk mengokohkan pembinaan Mutarobbi. Mengontrol kualitas ruhiyah, fikriyah, aktivitas ‘ailiyah maupun aktivitas sosial.

6.Manhajiyah at-Tarbawiyah as-Shahihah wa al-Murakkazah (Metodologi Tarbiyah yang Shahih dan Tepat)

Keberhasilan tarbiyah sangat ditentukan pula oleh metodologi yang benar dan tepat. Ketepatan waktu penyampaian, tema yang disampaikan, cara penyampaian ataupun metode pendekatannya. Rasulullah SAW sangat memerhatikan masalah ini agar apa yang beliau sampaikan mengena pada sasaran.

Rafi ibnu al-Mu’alla RA memaparkan pengalamannya bersama Rasulullah SAW ketika menerima ajaran Rasulullah SAW. Beliau mengajarkan di saat hati manusia siap untuk mendengarkannya, yakni sesudah melaksanakan ibadah. Juga di tempat yang diberkahi Allah SWT, yaitu di mesjid atau majelis-majelis ilmu. 
Pendekatan yang digunakan dengan pendekatan personal yang memikat memupus jurang pemisah antara Murabbi dan Mutarobbi. Rafi’ berkomentar saat didekati Rasulullah SAW dengan mengatakan, “Rasanya sayalah roang yang paling dekat dengannya.” Cara menyampaikan beliau membuat terpukau pendengarnya melalui pemaparan yang menakjubkan. Seperti saat akan menyampaikan surat al-Fatihah beliau mengatakan, “Maukah engkau aku ajarkan satu surat yang paling besar dalam al-Qur’an sepulang dari masjid?”

Selayaknya Muraobbi pandai memilih dan menggunakan metode yang tepat dalam menyampaikan muatan tarbiyahnya. Agar muatan yang disampaikan mengenai sasaran dan selanjutnya tertanam di hati Mutarobbi.

7. In’asy at-Tarbawiyah (Penyegaran Aktivitas Tarbiyah)

Untuk meningkatkan kualitas tarbiyah, penyegaran aktivitas tarbiyah bisa dilakukan, misalnya dengan acara mabit bersama, rihlah, olahraga jama’iyah, daurah tarqiyyah, atau kegiatan lainnya. penyegaran ini dalam upaya dinamisasi suasana tarbiyah agar terhindar dari kejenuhan. Diharapkan acara tersebut dapat emnjadi energi baru bagi Mutarobbi. Murobbi dalam menyelenggarakan in’asy tarbawiyah ini dapat melihat kebutuhan Mutarobbbi agar kegiatan itu tepat sasaran.

Rasulullah SAW bersabda, “Rehatkanlah hatimu karena ia tidak terbuat dari besi.” (HR. An-Nasa’i)

8. Do’a (Saling Mendoakan)

Seperti kita ketahui bahwa do’a mempunyai daya dukung yang berarti dalam amal dakwah. demikian pula keberhasilan tarbiyah. Murobbi tidak moleh mahal untuk mendo’akan mutarobbinya agar dikokohkan hatinya dalam menerima Islam serta dimudahkan hatinya dalam menerima Islam serta dimudahkan merealisasikannya. Juga hendaknya Murobbi menganjurkan kepada mutarobbinya untuk senantiasa saling mendo’akan supaya diberi kekuatan untuk menjalankan ajaran Islam.

Demikianlah catatan pendahulu kita sebagai panduan untuk mencapai kesuksesan dalam mengelola tarbiyah. Untuk mencapainya, tarbiyah sebagai sarana pembinaan diri sudah tentu mesti dilakukan secara berkesinambungan, rutin, marhaliyah, dan sistemik. Namun tentu saja hal ini jangan menjadi faktor yang mempersulit seorang kader untuk menjadi Murobbi, melainkan sebagai arahan yang memudahkan kita dalam meraih kesuksesan tersebut. Oleh karena Itu marilah kita berikrar, “Kami adalah Murobbi.” Why not?

Oleh: DH. Al Yusni
_______________________
*Tulisan Ini Diambil dari Buku “Tarbiyah Menjawab Tantangan” Terbitan Robbani Press tahun 2002.


..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »