Mari Kita Jujur Kepada Allah

Oleh: Dr. Najih Ibrahim

Jika seorang hamba jujur kepada Allah ta’ala dan ikhlas karena-Nya di dakwahnya, maka itu berpengaruh besar pada dakwahnya dan para mad’u (objek dakwah) yang melihat dengan mata kepala mereka, merasakan dengan hati dan jiwa mereka akan kejujuran sang dai. Mereka saksikan kejujuran sang dai di jiwanya yang tenang penuh kedamaian, ridha, dan kekhusyukan. Mereka lihat kejujurannya di wajahnya. Kedua matanya jujur. Begitu juga lidah dan kedua mulutnya. Senyumnya dan raut wajahnya jujur. Mereka melihat kewibawaan, cahaya, dan pesona, di wajah sang dai yang jujur. Mereka juga menyaksikan kekhusyukan dan ketenangan di sekujur tubuh dai yang jujur. Bahkan, saat lawan pun ketika melihat wajah sang dai yang jujur pasti berkata, “Dai ini jujur.” Ia berkata seperti itu, padahal belum pernah mendengar perkataan sang dai dan berdialog dengannya. Hal ini terjadi pada seseorang yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Apakah betul, engkau Muhammad bin Abdullah?” Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang biasa memanggilku seperti itu.” Orang itu berkata, “Wajah seperti ini bukan wajah pembohong.”

Akhi, jika Anda mendapatkan warisan kejujuran, keikhlasan, dan keimanan, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam jumlah besar, Anda beruntung.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mewariskan uang. Tapi, begitu mewariskan dakwah yang harus disampaikan dan ilmu yang perlu Anda jadikan pedoman untuk men-tarbiyah diri sendiri dan orang lain. Beliau juga mewariskan petunjuk, ketakwaan, keimanan, kekhusyukan, keikhlasan, dan keyakinan. Jika Anda mendapatkan warisan itu semua dalam jumlah besar, maka manusia akan mendapatkan petunjuk melalui perantara Anda, dengan cara yang paling mudah dan sederhana. Kadang, ada orang langsung komitmen dengan Islam dan mengamalkannya, lantaran melihat Anda. Kadang, ada orang lainn mendapatkan petunjuk, hanya karena pernah duduk beberapa menit dengan Anda. Atau orang lain mendapat petunjuk, hanya karena ia mengucapkan salam kepada Anda, lalu Anda membalas salamnya, atau karena Anda makan bersamanya, atau Anda tersenyum kepadanya. Atau ada orang lain mendapat petunjuk melalui perantara Anda, hanya karena duduk dengan Anda selama satu jam atau kurangdari satu jam, di perjalanan.

Tidakkah Anda lihat Addas, mantan budak Utbah bin Rabi’ah, masuk Islam di depan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, setelah mendengar dua kalimat yang keluar dari mulut beliau? Dua kalimat itu ialah, “Bismillah.” Itu diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum membentangkan tangan untuk menerima setandan anggur yang dibawa Addas untuk beliau. Ketika Addas tahu beliau itu nabi, Addas langsung mencium dua tangan dan dua kaki beliau, lalu masuk Islam. (Diriwayatkan Ibnu Ishaq dan Abu Nu’aim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkan tangan di dada pemuda yang ingin berzina dan minta beliau mengizinkannya. Setelah beliau mengangkat tangan dari dadanya dan mendoakannya agar menjadi orang baik-baik, maka zina menjadi sesuatu yang paling dibenci pemuda itu, padahal sebelumnya merupakan sesuatu yang paling digemarinya. (Diriwayatkan Ahmad)

Hal yang sama terjadi pada orang musyrik yang datang dari Makkah menuju Madinah untuk membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena termakan provokasi Shafwah bin Umaiyyah. Sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita kepadanya tentang apa yang terjadi antara dirinya dengan Shafwan bin Umaiyyah, orang musyrik itu berkata, “Aku bersaksi engkau utusan Allah.” (Diriwayatkan Ibnu Ishaq dan Ath-Thabrani)

Banyak orang melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu mencintai beliau setengah mati. Sesudah itu, mereka rela berkorban dengan apa saja, baik sesuatu yang mahal atau murah, dan jiwa, sebagai tumbal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ya, jika Anda mendapatkan warisan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam jumlah besar, Anda punya pengaruh besar dalam hal ini. Misalnya, dengan melihat wajah Anda, maka orang lain mendapat petunjuk. Atau doa Anda kepada seseorang mampu merubah kondisinya menjadi lebih baik. bahkan, senyuman Anda tanpa harus berbicara dengan objek dakwah selama berjam-jam atauberhari-hari untuk menjelaskan fikrah Anda kepadanya atau menerangkan pendapat Anda tentang berbagai masalah penting, tapi, dalam beberapa detik, senyuman Anda mampu memasukkan sebagian petunjuk Anda dan warisan kenabian yang memenuhi hati Anda ke hati objek dakwah dan baterai iman mengisi baterai imannya yang kosong.

Jika jatah warisan seseorang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin banyak, maka aroma keimanan, keikhlasan, dan kejujurannya semerbak ke mana-mana. Tidak terbatas pada tempat berada atau waktu hidupnya sekarang, namun pengaruhnya tetap ada pada generasi-generasi mendatang.

Bukankah ucapan orang-orang seperti Mush’ab bin Umair, Zaid bin Haritsah, Umar bin Khaththab, Abu Bakar, dan sahabat-sahabat lain, itu tidak henti-hentinya berkumandang di telinga berbagai generasi, termasuk generasi sekarang, hingga Allah ta’ala mewarisi bumi beserta isinya? Padahal, mereka sekarang berada di kuburan masing-masing.

Bukankah kita hidup dengan hati dan seluruh perasaan kita bersama Khalid bin Walid radhiyallahu‘anhu ketika membaca biografinya? Kita merasakan detik-detik biografi tersebut dan seperti hidup bersamanya di medan perang, berperang dan berjihad bersamanya? Bukankah sekadar membaca buku-buku sirah itu menumbuhkan semangat jihad di hati, membuat seseorang menikmati mati syahid di jalan Allah ta’ala, rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat? Apa rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hingga punya pengaruh begitu mendalam di jiwa? Itu baru dengan membaca sirah beliau. Bagaimana kalau kita melihat beliau dan berperang di bawah panji beliau?

Waktu empat belas abad tidak mampu menghapus pengaruh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sepertinya, beliau masih hidup, berperang di atas kuda, menyerang Persia dan Romawi.

Begitu juga, jika kita membaca biografi Umar bin Abdul Aziz, cucu Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu, maka kita khusyuk, menangis, dan hidup bersamanya. Seolah-olah, ia masih hidup; kita duduk dan bicara dengannya. Lalu, kita ingin membaca biografinya lagi, hingga berkali-kali, tanpa jenuh.

Mereka dan orang-orang yang sejalan dengan mereka adalah orang-orang yang namanya dibuat harum oleh Allah ta’ala  di dunia. Kendati mereka berada di kuburan, mereka dai kepada kebenaran dan petunjuk ke jalan lurus. Banyak generasi mendapatkan petunjuk melalui perantara mereka sesudah mereka meninggal dunia, sebagaimana generasi dulu menadpatkan petunjuk melalui mereka saat mereka hidup. Allah ta’ala berkehendak memuliakan wali-wali-Nya, baik mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia, di dunia dan akhirat. Ini karunia Allah ta’ala yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Saya berdoa kepada-Nya, semoga kita mendapatkan sebagian karunia itu, meskipun sedikit. Akhi, kejar karunia ini dengan serius, niscaya Anda mendapatkannya. Siapa tidak memperolehnya dan gagal mencapai tingkatan ini, ia kehilangan banyak kebaikan.

Jika seseorang jujur kepada Allah ta’ala dan ikhlas dalam upayanya menegakkan agama, otomatis ia jujur dalam segala hal. Ia tidak hanya jujur dalam perbuatan, perkataan, organ tubuh, jihad, dan dakwahnya. Pedang, senjata, dan perbekalannya pun ikut jujur.

Ini seperti yang disebutkan di sirah bahwa ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di rumah dari Perang Uhud, beliau menyerahkan pedang beliau kepada putri beliau, Fathimah radhiyallahu’anha. Beliau berkata kepada Fathimah, “Cucilah darah di pedang ini, hai putriku. Demi Allah, pedang ini jujur kepadaku di Perang Uhud.” Ali bin Abu Thalib radhiyallahu’anhu juga menyerahkan pedangnya kepada Fathimah dan berkata kepadanya, “Tolong, cuci darang di pedang ini. Demi Allah, pedang ini jujur kepadaku di perang Uhud.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib, “Jika engkau jujur ketika perang, Sahl bin Hunaif dan Abu Dujanah juga jujur sepertimu.” (Diriwayatkan Ibnu Hisyam)

Pedang itu jujur, karena kejujuran pemiliknya. Pedang itu tergantung siapa yang memegangnya. Saya tertarik dengan penyair yang berkata,

“Pedang Shalahuddin hanyalah batang kayu
Dan hati Shalahuddin, hamba yang membutuhkan ampunan Allah
Pedang Ali bin Abu Thalib, Abu Dujanah, dan Sahl bin Hunaif berbeda dengan pedang-pedang lain
Sungguh, pedang-pedang itu mendapatkan kejujuran dan keikhlasan dari pemiliknya
Begitu juga pedang Shalahuddin
Sekarang, bisa jadi kita punya pedang
Tapi, kita tidak menemukan orang-orang sekaliber mereka yang menjadikan pedang itu jujur”

Senapan di tangan orang seperti Khalid (penembak Anwar Sadat) dan orang-orang semisalnya tentu berbeda dengan senapan manapun, kendati seluruh senapan itu berasal dari satu pabrik. Dan, peluru yang keluar dari mereka berbeda dengan peluru yang keluar dari orang-orang selain mereka.

Tidakkah Anda baca peluru jujur yang dilepaskan mujahid paling lemah dari jarak cukup jauh, tapi mengenai leher komandan musuh? Peluru jujur tersebut keluar dari senapan jujur, yang dibawa orang jujur kepada Allah ta’ala dan ikhlas karena-Nya. Begitu juga peluru lain yang dilepaskan mujahid lain dan mengenai salah satu komandan lawan. Ketika itu, para dokter, tentara-tentara terluka, bahkan ahli bedang terperangah kaget dengan peluru itu. Mereka menyimpulkan peluru tersebut bukan peluru biasa yang kita kenal, bahkan peluru jenis khusus! Mereka sampai seperti itu, karena keterperangahan mereka. Bagaimana satu peluru dapat menimbulkan luka sedemikian besar dan memecahkan tulang? Sungguh, itu peluru jujur, yang keluar dari senapan jujur dan dibawa orang yang jujur kepada Allah ta’ala dan ikhlas kepada-Nya.

Sekarang, kita punya pedang. Tapi, kita tidak punya orang-orang seperti Ali bin Abu Thalib, Khalid bin al-Walid, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Amr bin al-Ash, dan Ikrimah bin Abu Jahal! Kita punya pedang, tapi mana orang seperti Shalahuddin al-Ayyubi? Hati peserti Shalahuddin al-Ayyubi? Keikhlasan dan kezudunan Shalahuddin al-Ayyubi? Kita punya senjata, tapi mana orang-orang seperti Khalid dan teman-temannya, kezuhudan, kejujuran, keikhlasan, kewara’an, dan tawadhu’ mereka. Dikatakan kepada seseorang, “Tolong lakukan ruqyah kepada si Fulan, dengan membaca al-Fatihah, karena Umar bin Khaththab dulu me-ruqyah seseorang dengannya, lalu orang itu sembuh.” Orang yang disuruh me-ruqyah menjawab, ”Surat al-Fatihah sih ada, tapi mana orang seperti Umar bin Khaththab?”

Pedang tidak jujur, kecuali dibawa orang jujur. Pedang tidak ikhlas, kecuali orang yang berjihad dengannya itu orang ikhlas. Pedang tidak berpengaruh kuat pada musuh-musuh Allah ta’ala, kecuali jika dibawa wali-wali-Nya yang sejati. Pedang tidak berakhlak, kecuali jika pemegangnya berada di atas manhaj Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akhlak beliau. Saya tertarik dengan perkataan Musthafa Sadiq ar-Rafi’i, yang kesimpulannya, “Akhlak tidak hanya milik kaum Muslimin. pedang mereka pun juga punya akhlak. Tidakkah Anda lihat pedang-pedang mereka itu tidak membunuh anak-anak, orang lanjut usia, wanita, dan orang tua renta? Juga tidak memotong pohon dan kurma?” Anda betul, wahai Musthafa Shadiq ar-Rafi’i. Pedang-pedang kaum Muslimin tidak hanya membunuh kesombongan, ujub, riya’, kepongahan, dan pembangkangan, namun juga bertempur karena mencintai Allah ta’ala, meninggikan kalimat-Nya, dan menegakkan supremasi Islam, hingga perkataan orang-orang kafir menjadi rendah dan yang tinggi hanyalah perkataan Allah ta’ala.

Jika seseorang jujur kepada Allah ta’ala, dakwah, jihad, amar ma’ruf nahi munkar yang ia jalankan, maka itu berpengaruh kuat di seluruh aspek kehidupannya. Tidak hanya berpengaruh pada pedang dan senjatanya. Tapi, apa saja akan ikut jujur bersamanya, hingga hewan kendaraannya sekalipun, yang ia naiki, gunakan untuk berjihad, dan pindah dari satu tempat ke tempat lain di jalan Allah ta’ala, guna menegakkan panji-Nya dan menyebarkan agama-Nya. Sepertinya, kejujuran pindah darinya kepada kewan kendaraannya atau mobil yang ia pakai di jalan-Nya.

Jika Anda ingin tahu hal ini lebih jelas lagi, silakan baca tentang al-Asyqar, kuda Khalid bin al-Walid radhiyallahu’anhu. Seseorang berkata kepada Khalid bin al-Walid, “Pasukan Romawi begitu banyak, sedang pasukan kaum Muslimin sangat sedikit.” Khalid bin al-Walid berkata, “Betapa sedikitnya pasukan Romawi dan begitu banyaknya pasukan kaum Muslimin! pasukan itu menjadi banyak dengan kemenangan dan menjadi sedikit dengan kekalahan, bukan dengan jumlah pasukan. Demi Allah, aku ingin al-Asqar sembuh dari sakitnya dan senjata mereka menjadi lemah.” Ketika itu, al-Asyqar, kuda Khalid bin al-Walid, berjalan tanpa sepatu. (Diriwayatkan Ibnu Jarir)

Al-Asyqar, kuda Khalid bin al-Walid, tahu kejujuran di jihad dari pemiliknya. Keduanya sudah sering bertempur bersama. Keduanya juga sering melintasi perjalanan beribu-ribu mil dalam rangka jihad di jalan Allah ta’ala. Bahkan, Khalid bin al-Walid telah melewati Persia dan Romawi dengan mengendarai al-Asyqar, pindah dari satu negeri ke negeri lain, dari satu kemenangan ke kemenangan lain, tanpa bosan dan istirahat. Ia melewati masa-masa sulit dengan al-Asyqar, berjalan dengannya siang-malam, mengarungi padang pasir, dan mengalahkan jagoan lawan. Maka tak heran kaki al-Asyqar menipis, karena terlalu sering berjalan. Khalid bin al-Walid menghancurkan Persia dan Romawi, mungkin sekarang Amerika Serikat dan Rusia, di atas al-Asyqar. Karena kejujuran al-Asyqar dengan Khalid bin al-Walid, maka Khalid bin al-Walid berharap al-Asyqar sembuh dari sakitnya, kendati misalnya jumlah pasukan Romawi bertambah banyak! Karena banyaknya pasukan Romawi tidak berarti apa-apa di depan kejujuran al-Asyqar di jihad. Begitulah kuda dan unta kaum Muslimin ketika itu.

Para sahabat berkata, “al-Qashwa’ (kuda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak mau beranjak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “al-Qashwa’ tidak mau beranjak bukan karena itu perilakunya. Ia tidak mau beranjak, karena ditahan oleh Dzat yang menahan gajah.” (Diriwayatkan al-Bukhari, Abu Dawud, dan Ahmad)

Sebaliknya, jika kejujuran seseorang kepada Tuhannya minim, kemaksiatan dan dosanya banyak, maka itu berpengaruh pada segala hal, hingga hewan kendaraannya sekalipun. Sungguh benar salah seorang generasi salaf yang berkata, “Aku bermaksiat kepada Allah, lalu efeknya aku lihat pada istri dan hewan kendaraanku.”
______________________________
*) Tulisan ini diambil dari Buku "Taushiyah Untuk Aktivis Islam" karangan Dr. Najih Ibrahim terbitan an-Nadwah cetakan ketujuh tahun 2012. 


..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »