Tafawwuq dan Ikhtiroqot

Oleh: KH. Hilmi Aminuddin, Lc.

Kita ini organisasi kader, walaupun secara operasional, melalui program-programnya, kita adalah gerakan massal yang melibatkan publik untuk berjuang bersama-sama kita. Syiar kita ‘nahnu minhum’ (kita bagian integral dari ummat ini), ‘wa nahnu ma’ahum’ (dan kita bekerja sama dengan mereka dalam mengayunkan langkah-langkah perjuangan), ‘wa nahnu lahum’ (dan seluruh perjuangan kita adalah untuk membela, memperjuangkan, dan menyejahterakan ummat ini).

Kualitas kader yang mengemban visi dan misi seperti itu tentu harus memiliki keunggulan-keunggulan. Apalagi mutathollabat maidaniyyah (tuntutan medan) Indonesia yang demikian luas. Indonesia adalah negara yang membentang luas dengan jumlah populasi tertinggi di antara negeri-negeri Islam.

Tentu kita menyadari sebagai jama’ah, yang secara organisasi kader, tidak mungkin dari sudut populasi dan kuantitas SDM, kita menjadi mayoritas. Organisasi kader selamanya adalah minoritas. Yang bisa mencapai organisasi mayoritas, walalu sifatnya temporar, itu hanya organisasi massal yang biasanya juga secara organisatoris cair. Karena cair, maka cenderung labil. Anggotanya seringkali mudah berubah, mudah berpindah, mudah merubah loyalitas kalau loyalitas itu memang ada, dan mudah merubah komitmen kalau komitmen itu memang ada.

Pilihan kita adalah menjadi organisasi kader, di mana kader-kader kita berkualitas, mempunyai tafawwuq (keunggulan-keunggulan). Pertama, tafawwuq imani (keunggulan iman) yang merupakan basis moral dan kekuatan semangat juang kita. Iman adalah hasil tafa’ul ruhi (interaksi jiwa) kita dengan aqidah yang dari waktu ke waktu harus selalu diperkokoh dan diperkuat, karena tantangan-tantangan yang kita hadapi semakin besar dan semakin kuat. Kedua, tafawwuq ‘ilmi (keunggulan ilmu) yang memancarkan tafawwuq fikri (keunggulan idealisme) yang dibangun oleh pemahaman kita tentang ‘ulum kauniyyah. Diseimbangkan, sehingga secara realitas kita unggul. Segala sesuatu yang kita inginkan yang kita cita-citakan, kita perjuangkan, seluruhnya adalah dengan bashirah.

Ketika kita memastikan keniscayaan jalan yang kan kita tempuh, Qul hadzihi sabili ad’u ilallah ‘alaa bashiratin... maka ad’u ilallah adalah landasan keimanan dan moralitas kita, bahwa dakwah dan perjuangan kita seluruhnya ilallah. Untuk menjadi ‘alaa bashiratin, maka kita harus memiliki keunggulan ilmu, baik ilmu syar’i maupun ilmu kauni. Dan rata-rata ummat secara umum, kader dakwah harus memiliki kelebihan secara ilmiyyah, syar’iyyah atau kauniyah, agar bisa ‘alaa bashirah. ‘Ulum syar’iyyah sebagai basis bashirah kita adalah untuk mempertahankan asholah (orisinalitas) keislaman, dakwah, dan jama’ah kita. ‘Ulum kauniyah diperlukan sebagai basis untuk mempertahankan dan meningkatkan kemampuan kita dalam mengembangkan dakwah. Sebab dakwah ini menuntut semakin luas menggunakan al-asalin (metode-metode yang kita ambil) dan wasail al-haditsah (sarana dan prasarana baru). Pengembangan metode tidak terlepas dari sarana dan prasarana, dan itu landasannya adalah penguasaan ulum kauniyyah.

Saya berkali-kali sering mengatakan bahwa saya tidak pernah khawatir jama’ah dan dakwah ini  terkena infiltrasi personil. Karena sistem tarbiyah dan taqwim yang demikian ketat dan panjang menyulitkan orang untuk melakukan infiltrasi. Apakah karena dari awal dia sudah larut menikmati tarbiyah sehingga ia mengikuti nurani dan fitrahnya untuk sadar akan tanggungjawab keislamannya, keutamannya, dan kedakwahannya. Maka kita tidak pernah ragu membina mad’u dengan bahan baku apa saja. Apakah dia mahasiswa, santri, petani, nelayan, tentara, polisi, atau intel. Kita tidak pernah ragu, kita bisa saja. Kalau ada niatan infiltrasi dia tidak akan tahan. Kalau kemudian dhomir-nya hidup lalu berinteraksi dengan mabadi (prinsip) aqidiyyah, fikriyyah, manhajjiyah, khuluqiyyah, wal ubudiyyah. Dia akan menjadi ikhwanukum fiddin (saudara kalian dalam agama) yang bersama-sama mengusung risalah dakwah ini sebagaimana yang diwariskan oleh Rasulullah SAW.

Justru yang sering saya ingatkan bahwa memang kita tidak pernah ragu bahwa sistem kita tidak mungkin diinfiltrasi secara personil. Tapi dalam perjalanan hidup dan perjuangan kita, terutama pada era jamhariyah, kita bergaul dengan aneka ragam orang, pemikiran, keyakinan, dan aqidah. Bahkan ke depan, dalam mihwar dauliy, aneka ragam agama akan bersentuhan dan berinteraksi dengan kita. Sebagai akder sudah seharusnya kita memegang doktrin kekaderan dalam pergaulan sosial. Seperti dicanangkan oleh Sayyid Quthb, “yakhtalitun walakin yatamayyazun,” bergaul tapi sanggup mempertahankan keistimewaan dan kelebihannya. Sanggup mempertahankan keunggulan imaniyyah, fikriyyah wa amaliyyan, ubudiyyan wa khuluqiyyah.

Dengan basis tarbiyah yang terus kita kelola, seharusnya kita bisa bertahan. Kita tidak perlu khawatir memunculkan ikhwan dan akhwat di tengan-tengah masyarakat untuk bergaul dengan aneka ragam aliran pemikiran, keyakinan, perilaku, sosial, budaya, politik. Karena ikhwan dan akhwat sudah dibekali dengan keunggulan-keunggulan: tafawwuq ruhi’, tafawwuq ta’budi, dan tafawwuq amaliy.

Tafawwuq berarti tafawwuq ruhi, tafawwuq ta’budi, dan tafawwuq khuluqi. Keunggulan iman artinya keunggulan moral, ruhiyah, ibadah, dan akhlak yang seharusnya tidak tergoyahkan ketika kita bergaul di tengah-tengah masyarakat dengan aneka ragam aqidah, ideologi, latar belakang budaya, pendidikan, sosial, dan lain sebagainya.

Begitu juga tafawwuq ‘ilmy yang memancarkan bashirah fikriyyah (ketajaman kecerdasan intelektual) yang sanggup menembus tabir-tabir kesemuanya dalam pergulatan, seharusnya bisa menjaga asholah fikriyyah-nya.

Walaupun begitu, karena kader juga manusia, jama’ah harus tetap berupaya menjaga kader-kadernya, agar jangan melenceng dalam pergaulan. Kita harus memastikan langkah-langkah untuk muhafazah (memelihara) amal jama’i melalui tiga langkah: tawashow bil haq, tawashow bil shobr, tawashow bil marhamah.

Dengan langkah itu, secara individu kita kokoh, tidak mudah tergelincir dari jalan yang benar karena ada tawashow bil haq yang secara terus menerus diberikan oleh lingkungan jama’ahnya, oleh ikhwan dan akhwat-nya. Kita punya daya tahan dalam memikul beban, menghadapi godaan, dan menghadapi tantangan, karena secara terus menerus mendapatkan himbauan tawashow bil shobr. Kader juga tidak mudah rontok potensinya akibat musibah-musibah yang menghampiri dalam kehidupan, seperti meninggalnya kerabat, orangtua, anak, suami, istri, atau juga gagalnya bisnis atau terpental dari pekerjaan karena PHK, karena semuanya tawashow bil marhamah.

Setiap ikhwan dan akhwat di saat prihatin seprti itu harus selalu mendapatkan haknya untuk menerima sentuhan tawashow bil marhamah, sentuhan ruhama baynahum yang merupakan hak dasar dari ukhuwah islamiyah.

Kalau kita secara konsisten, terus menerus menyelaraskan khutwat (langkah-langkah) untuk muhafazah amal jama’I dengan tawashow bil marhamah, insya Allah kekauatan jama’ah ini, baik secara komunal maupun individual, bisa diandalkan ketika dituntut oleh perjalanan dakwah untuk bergaul, berinteraksi, berkomunikasi, bekerjasama di tengah-tengah publik, dengan orang-orang yang mempunyai latar belakang pemikiran, sosial, budaya, dan pendidikan yang beraneka ragam.

Jika kita lengah dalam menjaga tafawwuq imani, tafawwuq ‘ilmiy, dan tafawwuq amali, jika kita lengah memelihara kekokohan amal jama’I melalui tawashow bil shobr dan tawashow bil marhamah, naudzubillah, maka akan berlaku hukum sosial yang umum kita bergaul: nuatstir fihim wa nataattsar bihim, kita bisa mempengaruhi mereka, dan kita pun bisa dipengaruhi mereka.

Inilah yang sering saya ingatkan, bahwa kita tidak mungkin diilfiltrasi dan dipenetrasi secara personil. Tapi jika kita lengah dalam muhafazhah terhadap amal jama’I dan dalam menjaga tafawwuq kita, naudzubillah, bisa saja tiba-tiba terjadi tahawwul ruhi wa ma’nawi (perubahan rohani dan moral). Terjadilah penetrasi moril atau ikhtiroq ma’nawi. Tiba-tiba saja, naudzubillah, ikhwan dan akhwat, jika lengah, sudah tidak bermoral Islam lagi.

Akibat dari dialog, komunikasi, dan interaksi pemikiran, bisa juga terjadi ikhtiroq fikry (penetrasi idealisme). Penetrasi idealisme bisa membuat kita berubah pemikiran dan idealitas perjuangan. Oleh karena itu, sebagai jama’ah, kita harus mempunyai fokus terhadap upaya memelihara keunggulan-keunggulan tadi: tafawwuq imani, ‘ilmiy, dan amaliy. Tafawwuq amaliy ini artinya keunggulan manhajiyyan. Kita tidak mungkin mempunyai keunggulan amaliyyan kecuali kita unggul secara manhajiyyan.

Kita juga harus fokus kepada upaya-upaya yang menjamin terselenggaranya pemeliharaannya pemeliharaan amal jama’i. bentuknya tawashow bil haq, tawashow bil shobr, dan tawashow bil marhamah. Kalau hal ini bisa kita jamin, insya Allah meski secara organisator kita ini akan tetap minoritas di tengah jumhur, tapi justru kita akan sanggup, seperti yang dituntut oleh kita, menjadi hizb yang kokoh, melayani, dan memimpin bangsa. Sebab tidak mungkin memimpin kecuali mempunyai yadul ulya (tangan di atas). Tidak mungkin yadul ulya kalau tidak mempunyai keunggulan-keunggulan.


Kalau kita mutafawwiqin (unggul), insya Allah kita memiliki qudral alal atho’ (kemampuan memberi), sehingga bisa melayani. Kalau kita sudah bisa melayani dan memberi, insya Allah akan diakui sebagai pemimpin. Sayyidul qowmi khodimukhum wan naasu yuwaluuna man khadamahum, tokoh masyarakat itu adalah yang melayani, dan manusia selalu memberikan loyalita kepada yang telah melayaninya.
_________________________
Sumber: Majalah al-Intima’, edisi No. 007 Tahun 2010

..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »