Pada Mulanya Memang Sepi Sendiri


Oleh: Ust. Ahmad Zairofi AM

“Dari Thaif hingga penaklukan Mekkah, adalah bentangan kisah tentang kesendirian di atas kebenaran, kesepian di jalan kebaikan, yang berakhir dengan kebahagiaan dalam kebersamaan.”

Di Thaif yang pahit, Rasulullah merasakan betul sakitnya tersendirikan. Alangkah sepinya. Saat-saat yang mencekam itu. Terasing. Diusir dengan kasar. Hanya ditemani pembantu setia, Zaid bin Haritsah. Dunia seperti tak menyisakan orang-orang ramah. Seluruh penduduk dusun itu mengaraknya. Perempuan, anak-anak, dan para budak bersorak riuh. Mereka melempari batu. Kakinya berdarah. Meleleh melumpuri terompahnya.

Tiga tokoh yang ditemuinya hanya saling mencibir. Jangankan mau beriman. Menolak dengan sopan saja tidak. “Apakah Allah tidak mendapatkan orang selain dirimu,” ejek salah seorang dari mereka pada akhirnya.

Segera Rasulullah beranjak. Di tengah perjalanan pulang ia menepi. Ia mengadukan semua duka itu pada Allah. Dalam untaian doa yang sangat terkenal.

Tak berlebihan, bila Rasulullah, kelak berkisah pada istri tercintanya, ‘Aisyah, bahwa dibanding kesedihan di Uhud yang berdarah-darah, kesendirian di Thaif jauh lebih mengiris.

Mengajak orang lain meniti jalan yang baik, mengusung ajaran Islam, di atas perjuangan dakwah pada lingkup apapun. Itu adalah kesepian yang berlipat dan kesendirian di atas kesendirian. Paling tidak pada mulanya. Lalu untuk waktu yang sangat lama.

Begitu pula berusaha menjadi baik, berproses menjadi baik, dalam konteks pribadi, di jalan Islam yang diridhai Allah, memang sebuah pilihan hidup yang menyendirikan.

Tetapi lihatlah dua puluh satu tahun kemudian. Itu waktu yang tidak singkat, memang. Tapi kesabaran di jalan sepi itu toh pada akhirnya berbuah kebersamaan. Rasulullah sangat bersyukur, memuji Allah. Dengan ketundukan yang sangat utuh. Di atas ontanya ia merunduk khusyu’. Saat Mekkah berhasil ditaklukkan. 

Dahulu Rasul terpaksa meninggalkan tanah suci itu dengan kesedihan yang menyayat. Tapi gelora rindunya tetap abadi. Sepuluh ribu pasukan penakluk Makkah adalah jumlah yang sangat fantastis, laksana gelombang, ia terlalu perkasa untuk mengubur kenangan kesendirian di Thaif, hanya bersama Zaid, berdua saja.

Akhirnya Rasulullah tidak lagi sendiri. Dan agama ini, perjuangannya, dakwahnya, seruannya, ajakannya, proses orang-orangnya dalam menghayati dan mengamalkannya, menemukan kebersamaan, dukungan, dan gairah fitrah yang bergelora.

Tak lama setelah Mekkah ditaklukan apda tahun 8 Hijriah, orang-orang berbondong-bondong datang menemui Rasulullah. Masyarakat dengan antusias menyatakan dirinya masuk Islam. Kesepian itu hanya cerita masa lalu. Untuk dikenang kesedihannya sebagai keniscayaan perjuangan, juga untuk diingat sebagai bekal syukur, betapa pada akhirnya ada hari-hari bersuka cita setelah Mekkah ditaklukkan.

Sejak hari itu tak ada lagi kesendirian. Hari itu tak ada lagi kesepian. Bahkan definisi hijrah fisik dari Mekkah ke Madinah sudah ditutup. Meksi perjuangan dan titian Islam belum sampai di ujung stasiunnya. Ya, karena memang memerbaiki diri, mendekat lebih dekat kepada nilai-nilai Islam, tidak mengenal kata selesai. Tapi setidaknya siklus itu telah berputar ke sisi sebelah jauhnya. Dari kesendirian menuju kebersamaan yang ramai.

Utusan demi utusan datang dari berbagai penjuru. Ada yang datang dengan berombongan. Ada yang beberapa orang saja. Seperti utusan dari Udzrah pada bulan Shafar tahun 9 Hijriah. Jumlah mereka yang dua belas orang. Mereka adalah bani Adzrah, saudara Qhusai dari pihak Ibu. Rasulullah menerima kedatangan mereka dengan ramah. Menyampaikan kabar gembira tentang penaklukan Syam. Rasul melarang mereka mendatangi dukun dan menyembelih kporban seperti yang biasa mereka lakukan sebelumnya. Para utusan ini masuk Islam dan menetap di Madinah hingga beberapa hari. Setelah itu mereka kembali lagi ke kaumnya.

Agama Islam benar-benar meliputi Jazirah Arab. Manusia berduyun-duyun memeluk Islam. Agama baru yang menjadikan akhirat. Yang menentaskan manusia dari ketertindasan menuju kemerdekaan hakiki.

Seperti itulah sejatinya, maket perjuangan Islam. Di ruang lingkup apapun, bila kita telah menetapkan diri untuk menjadi Muslim, kita harus selalu menambah pengetahuan kita tentang Islam, meningkatkan isi kantong keimanan kita. itu semua adalah proses panjang meniti kesendirian.

Di Mekkah kesendirian itu memang pernah melewati masa panjangnya. Lalu memasuki siklus barunya: masa keramaian dan orang berbondong-bondong masuk Islam. Tapi siklus itu akan kembali lagi. Seperti yang telah diingatkan Rasulullah, bahwa agama ini datang dalam keterasingan, ia juga akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Tetapi kita juga harus percaya, bahwa siklus kesendirian juga akan disusul dengan siklus kebersamaan. Bahwa ada saat kita sendirian. Tapi ada juga saat di mana kita tidak sendirian.

Perjalanan dari Thaif hingga penaklukan Mekkah, adalah pelajaran berharga bagi setiap Muslim. Tentang bagaimana memilih jalan hidup lalu mengerti risiko jalan itu. seorang muslim semestinya selalu berjuang bagi dirinya, bagi keluarganya, bagi masyarakatnya, bagi bangsanya. Berjuang mengamalkan nilai-nilai Islam, menegakkan ajaran-ajaran Islam. Di tempat kerja, di rumah, di tempat belajar, di lingkaran kekuasaan, bahkan dalam kehidupan diri sendiri yang sangat privat sekalipun, proses menjadi muslim yang baik harus terus dilakukan.

Hanya dengan itulah sesungguhnya kita akan menemukan keramaian dan keramahan hidup yang sesungguhnya. Meski pada mulanya terasa sepi. Sebaliknya, orang-orang yang di keramaian yang kotor dan kerumunan orang-orang yang culas, sesungguhnya mereka kesepian, meski secara lahir diselimuti dengan hiruk-pikuk.

Menjadi muslim yang baik, pada mulanya adalah sepi. Berdakwah di tengah tekanan dan ancaman, pada mulanya adalah sepi. Menapaki jalan kebaikan, sejengkal demi sejengkal, pada mulanya adalah sepi. Menghapus satu demi satu kesalahan dengan taubat dan kecintaa pada kebaikan, pada mulanya adalah sepi. Menyuarakan hak-hak rakyat di tengah karnaval penguasa-penguasa busuk, pada mulanya adalah sepi. Berpartai denganc ara yang Islami, pada mulanya adalah sepi. Jujur pada suara hati yang lurus, pada mulanya adalah sepi. Tidak terbawa oleh arus budaya yang melenakan, pada mulanya adalah sepi.

Begitulah. Tapi pada akhirnya akan ada hari ketika Allah memberikan kemenangan. Pada hari itu orang-orang beriman bersuka cita dengan pertolongan Allah. Saat manusia berbondong-bondong memilih jalan yang baik.

Dari Thaif hingga penaklukan Mekkah, adalah bentangan kisah tentang kesendirian di atas kebenaran, kesepian di jalan kebaikan, yang berakhir dengan kebahagiaan dalam kebersamaan. Cermin itu tak pernah kusam, bagi siapa saja yang ingin mengerti arti hidup, sebagai apapun dalam konteks apapun[]
_____________________________________
*) Tulisan ini diambil dari buku "Lelaki Pendek, Hitam, dan Lebih Jelek dari Untanya" karya Ahmad Zairofi AM, terbitan Tarbawi Press, cetakan ke-3, tahun 2009.



..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »