Begini Mengantisipasi Kekerasan Pada Anak Dan Perempuan

Tarqiyah - Pendidikan anak menjadi sangat penting. Terlebih akhir-akhir ini saat serbuan budaya asing dan teknologi menyerbu rumah-rumah kita. Hampir sebagian besar anak melihat dan menonton televisi dan sinetron. Belum lagi yang digandrungi gadget dan game online. Tidak dipungkiri banyak tindakan kekerasan oleh dan kepada anak dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Maka sebagai orangtua kita harus menyikapi dengan bijak.

Pakar agama dari IAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Danial, menyebutkan, negara dan masyarakat berperan penting dalam memberikan pendidikan khusus kepada keluarga masing-masing, terkait meningkatnya kasus kekerasan dan pelecehan seksual kepada anak dan perempuan.

“Dalam hal ini, ada faktor eksternal dan ada faktor internal, misalkan faktor eksternal yaitu bisa mempengaruhi budaya global yang isinya kekerasan seperti film dan sinetron yang dipertontonkan kepada anak-anak, sehingga mempengaruhi perilaku mereka,” katanya kepada GoAceh, Kamis (2/3/2017).

Lanjutnya, hingga saat ini belum adanya tindakan khusus dari pemerintah untuk menangani atau mencegah yaitu tindakan yang prefentif, serta memberikan pendidikan kepada masyarakat pranikah.

Kemudian, bagi yang sudah menikah memberikan pendidikan kepada anak, karena kekerasan terhadap anak terutama kekerasan seksual itu lazimnya dilakukan oleh keluarga sendiri.

“Yang internalnya dalam diri anak sendiri mungkin dari pola asuh, pendidikan dan sebagainya juga korban, yang dulunya korban kekerasan kini menjadi pelaku kekerasan. Selain itu, pemahaman agama selama ini ayat-ayat Alquran tentang perempuan atau keluarga itu sosial hal, baik melalui ceramah atau pun pelajaran agama itu sangat memihak laki-laki,” ungkapnya.

Danial menambahkan, dalam hal ini masyarakat harus dibekali ilmu agama, karena dalam hal ini budaya juga berpengaruh. Karena selama ini yang dikembangkan budaya yang tidak adil terhadap perempuan.

“Kalau dalam segi agama ada tiga komponen yang harus berperan untuk mengatasi hal ini, pertama secara struktural negara harus berinterpensi melalui program-program yang  lebih positif terhadap perempuan dan yang kedua tugas ilmuan, agamawan, mubaligh supaya mereka bisa melakukan proses transformasi ilmu pengetahuan terutama dalam menyampaikan ilmu agama harus seimbang antara laki-laki dan perempuan,” jelasnya.

Tambahnya, masyarakat tidak boleh acuh terhadap ketidakadilan yang terjadi sekitar mereka. Masyarakat harus melapor dan mengingatkan bila terjadi kesimpangan atau yang lain-lain di tengah kehidupan mereka.

“Harus disadari bahwa mayoritas pelaku dan pengambil manfaat adalah perempuan, jadi harus dilibatkan dalam berbagai kebijakan dan identifikasi berbagai permasalahan yang terjadi di kota Lhokseumawe dan memperlakukan perempuan sebagaimana memperlakukan ibu kandung kita sendiri,” pungkasnya.

Diambil dari sumber INI

..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »