Kekuatan Digital Kaum Muslimin

Tarqiyah.com - Beberapa waktu belakangan ini kita terharu biru dengan gerakan umat Islam yang masif dan mengakar dalam tajuk Aksi Bela Islam. Dari mulai aksi bela islam pertama, kedua , ketiga semua meninggalkan suasana heroik di hati kaum muslimin Indonesia. Dunia bangga melihat apa yang dilakukan umat islam di Indonesia. Dengan jutaan manusia berkumpul bersama menyuarakan hal yang sama namun tetap damai dan syahdu.

Ada hal yang menarik yang mengikuti peristiwa itu, yakni bangkitkan kekuatan digital kaum muslimin. Keberadaan teknologi, internet, dan sosial media tidak dapat dihindari lagi. Diantara kejengahan terhadap media arus utama yang sering memberikan berita yang kurang proporsional bagi umat islam, lahirlah gerakan masif melalui sosial media. Aksi 411, 212 yang fenomenal itu juga lahir dari gerakan sederhana membagikan informasi melalui sosial media.

Misalnya kisah heroik santri ciamis yang berjalan menuju Jakarta. Kalau tidak ada sosial media yang menyebarkan konten tersebut barangkali hanya sedikit orang yang akan tergerak untuk mengikuti aksi bela Islam jilid 2 di Monas. Setelah itu seolah umat ini mendapat tambahan tenaga yang luar
biasa sehingga siapapun orang yang berbuat tidak menyenangkan kepada umat Islam pasti akan menghadapi kekuatan ini.

Dan benar saja tidak lama berselang siaran pers yang tendensius dari Sari Roti mendapat reaksi keras. Berhari-hari kecaman itu viral diberbagai media sosial hingga lahir gerakan boikot dan sebagainya. Bahkan sebelumnya ada gerakan Rush Money yang juga lahir dari sosial media.

Kesadaran digital semakin meningkat, ada positif ada negatif. Positifnya adalah kekuatan umat Islam sudah tidak bisa dianggap remeh lagi didunia digital. Kalau beberapa tahun sebelumnya umat Islam selalu jadi bulan-bulanan di media arus utama maupun media sosial, sekarang pasti yang melakukannya akan berpikir berkali-kali.

Sebut saja misalnya komedian Uus, artis Prisia Nasution, dan yang terakhir Ernest Prakasa. Itu baru sedikit dari nama-nama yang merasakan bagaimana kekuatan digital umat Islam. Kita ingat kasus super besar yang menghebohkan jagad negeri ini bahkan dilihat dunia tentang penistaan agama itu berawal dari sebuah postingan di sosial media. Sebuah langkah sederhana yang kemudian menimbulkan reaksi bersama yang menyedot begitu banyak energi bangsa ini. Tak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa sebuah postingan di media sosial menjadi isu utama dan merembet kebanyak hal.

Kita ingat juga Arab spring beberapa tahun lalu yang membuat sebuah gerakan revolusi di beberapa negara timur tengah juga berawal dari gerakan media sosial.

Selain itu penyebaran konten-konten kebaikan juga semakin masif. Dari mulai berita positif sampai ceramah para ustadz dengan mudahnya kita akan temukan di sosial media. Tentu ini sebuah langkah yang maju bagi dakwah dan tersebarnya fikrah Islam.

Tapi jangan dilupakan bahwa dunia digital itu bagaikan dua mata pisau. Sisi negatifnya adalah umat Islam menjadi sangat permisif dengan berita yang belum dapat dipastikan kebenarannya, atau sekarang biasa disebut Hoax. Hal itu wajar karena semangat yang sedang meninggi, Kesadaran
yang baru tumbuh dan belum menemukan kematangannya. Sehingga apapun informasi yang dianggap berdekatan atau berpihak dan sesuai selera kita pasti akan kita anggap benar. Dan teori sederhana bahwa sebuah informasi salah yang disebarkan berulang akan dianggap benar. Dan informasi salah akan tersebar puluhan kali lebih cepat daripada berita benar.

Ini yang harus menjadi perhatian khusus bagi kita. Sebab, gerakan digital kaum muslim saat ini bukan hanya sekedar masif tapi juga mengakar dan kuat. Secara sederhananya sebuah kekuatan itu juga bisa sekaligus menjadi kelemahan.

Sejak zaman dahulu senjata musuh Allah untuk menghancurkan Islam adalah dengan memecah belah barisan umat. Jadi kita harus sadar bahwa, kesadaran digital ini harus diikuti dengan pemahaman Islam yang baik. Sehingga kita tidak terbawa arus dan kemudian jika ada yang sengaja ingin
merubah arus itu kita tidak lantas ikut larut didalamnya. Jangan sampai kita terpancing dengan berita bohong, berita mengadu domba, berita yang tidak utuh, dan sebagainya. Kuncinya adalah jangan terlalu reaktif. Pastikan sebuah kebenaran sebelum kita meyakini atau bahkan menyebarkannya.

Semoga kesadaran digital ini tetap terjaga agar kita dapat menerangi setiap sendi kehidupan dengan cahaya Allah. Dan semoga pula Allah menjaga kita agar tidak terperosok dalam fitnah, ghibah, dan hal negatif lainnya.


Oleh : Kurnia P. Wijaya

..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »