Tak Ada Air atau Tanah Bagaimana Kita Sholat ?

Tarqiyah.com - Apa yang harus kita lakukan apabila masuk waktu sholat namun kita tidak menemukan air untuk berwudhu. Begitupula kita tidak menemukan Tanah untuk bertayamum.

Ustadz Ahmad Sarwat, Lc, MA menguraikannya pada rumahfiqih.com sebagai berikut :

Kalau kita merujuk kepada kitab-kitab fiqih klasik dari sumber-sumber aslinya di keempat mazhab utama fiqih Islam yaitu Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah dan Al-Hanabilah, ternyata semuanya punya jawaban yang saling berbeda-beda.

Berikut adalah ringkasan petikan dari berbedaan pendapat di antara keempat mazhab itu :

1. Mazhab Al-Hanafiyah

Mazhab Al-Hanafiyah mengatakan bahwa orang yang tidak mendapatkan air atau tanah untuk bersuci, maka dia tetap diwajibkan melakukan gerakan seperti orang yang sedang shalat, dengan ruku' dan sujud tapi tidak membaca surat Al-Fatihah atau ayat Al-Quran. [1]

Nanti bila telah menemukan air atau tanah dan dimungkin shalat, wajib untuk mengulangi shalatnya.

2. Mazhab Al-Malikiyah

Sedangkan dalam pandangan mazhab Al-Malikiyah, orang tersebut tidak perlu melakukan shalat, tidak perlu mengulangi bila sudah memungkinkan dan juga tidak perlu mengqadha'. Sebab dalam pandangan mazhab ini, kewajiban shalat gugur dengan sendirinya pada saat tidak ada air dan tanah.[2]

3. Mazhab Asy-Syafi'iyah

Dalam pandangan mazhab Asy-Syafi'iyah, orang tersebut tetap wajib melaksanakan shalat seperti biasa, dengan berniat shalat sesungguhnya, bukan sekedar melakukan gerakan seperti orang shalat sebagaimana mazhab Al-Hanafiyah. Dia tetap harus membaca Al-Fatihah dan bacaan shalat lainnya, meski tanpa wudhu atau tayammum, dengan niat menghormati waktu.

Dan bila telah menemukan air atau tanah, maka dia wajib mengulangi shalatnya itu. [3]

4. Mazhab Al-Hanabilah

Mazhab Al-Hanabilah mengatakan bahwa orang itu harus tetap shalat apa adanya meski tanpa berwudhu' atau bertayammum. Dan tidak perlu mengulangi atau mengqada' shalatnya.[4]

Kurang lebih kalau kita masukkan dalam tabel grafik menjadi sebagai berikut :

Sebenarnya tidak ada keharusan bagi kita untuk memilih satu pendapat tertentu dari keempat mazhab di atas. Namun kalau antum bingung harus pakai pendapat yang mana, saran saya gunakan saja pendapat yang lebih hati-hati dan lebih aman, yaitu shalat dengan lengkap dan juga diqadha'. Dan itu adalah pendapat mazhab Asy-Syafi'iyah.

Namun kalau antum mau memilih pendapat mazhab yang lain, tentu silahkan saja. Yang penting bila orang lain memilih yang bukan pilihan antum, jangan dimusuhi apalagi dicaci. Sebab keempat pendapat itu adalah hasil dari ijtihad para ulama yang punya kapasitas jauh di atas rata-rata kemampuan kita.

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,



[1] Ad-Dur AlMukhtar jilid 1 hal. 232, Maraqi Al-Falah hal. 21.

[2] Asy-Syarh Al-Kabir jilid 1 hal. 162

[3] Al-Majmu' Syarah Al-Muhadzdzab jilid 1 hal. 35

[4] Mughni Al-Muhtaj jilid 1 hal. 105



Sumber asli dapat dilihat disini 

..:: Kirim tulisan dan berita dunia Islam ke : redaksitarqiyah@gmail.com

Silakan Berbagi

Related Posts

Previous
Next Post »